KPAI: Perbaikan Kualitas Pendidikan Dimulai dari Guru

    Intan Yunelia - 25 November 2019 14:10 WIB
    KPAI: Perbaikan Kualitas Pendidikan Dimulai dari Guru
    Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti. Foto: Medcom.id/Intan Yunelia
    Jakarta: Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) berharap Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Anwar Makarim dapat segera melakukan langkah-langkah nyata untuk pendidikan Indonesia. Salah satunya adalah pada perbaikan kualitas pendidikan yang harus dimulai dari perbaikan kualitas guru.

    Komisioner KPAI Bidang Pendidikan, Retno Listyarti mengatakan, bahwa dalam pidato Mendikbud untuk Hari Guru Nasional 2019 ditegaskan tentang kemerdekaan belajar siswa dan kemerdekaan mengajar guru.  Masih dalam naskah pidato, Nadiem mengungkapkan kondisi guru yang terbelenggu kurikulum dan kewajiban administrasi mengajar.

    Sebab hasil penelitian menunjukkan, selama 25 tahun terakhir tidak ada perubahan cara mengajar para guru dalam proses pembelajarannya di ruang-ruang kelas.

    "Untuk itu, maka diperlukan iklim sekolah yang mendukung peningkatan kapasitas guru melalui berbagai pelatihan," terang Retno dikutip dari siaran pers yang diterima Medcom.id, Minggu, 24 November 2019.

    Pelatihan guru, menurut Retno, tidak melulu soal metode, namun yang terpenting adalah
    pola pikir guru untuk memerdekakan pembelajarannya.  Di antaranya melalui pelatihan tentang Konvensi Hak Anak (KHA), demi mewujudkan Sekolah Ramah Anak (SRA). 

    "Ini jelas perjuangan yang tidak mudah," kata mantan Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) itu.

    Ia menyebutkan, jika peningkatan kualitas guru dapat terealisasi, maka kualitas pendidikan bisa didapat. Karena jika guru berkualitas otomatis siswanya juga akan menjadi berkualitas.

    "Jika guru dan siswanya berkualitas, pasti sekolahnya berkualitas. Kalau sekolah-sekolah berkualitas di suatu daerah, maka pendidikan di daerah tersebut pastilah berkualitas. Jadi intinya perubahan pendidikan harus dimulai dari guru," ujar mantan Kepala Sekolah SMAN 3 Jakarta ini.

    Tak hanya itu, KPAI juga meminta agar anak-anak dari keluarga yang tidak mampu untuk diberikan akses yang lebih luas lagi dalam mengakses pendidikan di jenjang SMP dan SMA/SMK. Hal itu mengingat lama belajar di Indonesia yang menargetkan lulus SMP 9 tahun.

    "Oleh karena itu, RPJMN 2020-2025 menargetkan lama seorang anak bersekolah adalah 9.1 tahun. Target ini bisa tercapai jika jumlah sekolah negeri di jenjang SMP dan SMA/SMK ditambah," papar mantan guru SMAN 13 Jakarta itu.

    Saat ini jumlah sekolah dari jenjang SD sampai Sekolah Lanjutan Atas (SLTA), termasuk Sekolah Luar Biasa (SLB) di Indonesia mencapai 307.655 sekolah pada tahun ajaran 2017/2018. Jumlah tersebut, berdasarkan data pokok pendidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan terdiri atas 169.378 sekolah negeri dan 138.277 sekolah swasta.

    Sementara itu jumlah sekolah tingkat SD merupakan yang paling banyak, yakni mencapai 148.244 sekolah Kemudian untuk jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) terdapat 38.960. Adapun untuk tingkat SLTA  sebanyak 27.205 sekolah, terdiri atas SMA 13.495 dan SMK 13.710.

    "Angka-angka tersebut menjadi bukti bahwa jumlah sekolah dijenjang yang lebih tinggi sangat minim, sehingga wajar jika lamanya seorang anak belajar di sekolah kurang dari sembilan tahun, bahkan tidak sampai lulus SMP," pungkasnya.




    (CEU)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id