Calon Mendikbud Harus Jago Kolaborasi

    Intan Yunelia - 14 Oktober 2019 12:13 WIB
    Calon Mendikbud Harus Jago Kolaborasi
    Pengamat Pendidikan dari Center of Education Regulation and Development Analysis (Cerdas), Indra Charismiadji. Foto: Medcom.id/Citra Larasati
    Jakarta:  Pengamat Pendidikan dari Center of Education Regulation and Development Analysis (Cerdas), Indra Charismiadji ikut menyampaikan pendangannya tentang syarat calon Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) di periode kedua pemerintahan Joko Widodo. Menurtunya, lima tahun mendatang dibutuhkan sosok Mendikbud yang kolaboratif dan berani menjawab tantangan zaman.

    “Harus orang yang berani membuat perubahan, paham kebutuhan bagaimana menghadapi tantangan industri 4.0 dan orang yang mampu berkolaborasi dengan banyak pihak,  Karena kalau bicara pendidikan ini bukan lagi sentralisasi jadi orangnya harus luas,” kata Indra saat dihubungi Medcom.id, Jumat 11 Oktober 2019.

    Ia menjelaskan, Mendikbud mendatang harus mampu bekerja sama dan bersinergi dengan pemerintah daerah. Serta bersinergi dengan instansi dan kementerian lain, untuk mengesampingkan ego sektoral.

    “Karena guru-guru itu kan pelatihannya di bawah Dikti (Kemenristekdikti untuk PPG (Pendidikan Profesi Guru)-nya enggak bisa orang yang bekerjanya pakai kacamata kuda. Jadi orang yang tahu kebutuhan tantangan 4.0 itu apa yang berani membuat perubahan bukan cuma itu-itu aja,” ujar Indra.

    Menurut Indra, saat ini cenderung kebijakan di Kemendikbud tidak ada gebrakan.  Pola pikir yang masih tertanam adalah sentralisasi semua kebijakan terpusat di Kemendikbud.

    “Karena selama ini kebanyakan ya karena mindset-nya masih sentralisasi itu juga enggak kelihatan, yang paling dibutuhkan adalah kolaborasi dengan pihak lain,” tuturnya.

    Indra menambahkan, parameter kemajuan kualitas pendidikan bukan hanya dilihat dari peningkatan nilai Ujian Nasional (UN). Padahal, ada substansi yang lebih mendasar yang harus dipecahkan oleh Mendikbud lima tahun mendatang.

    “Pemerintah Indonesia terlalu anggap semuanya baik-baik saja dan merasa nilai Ujian Nasional baik karena banyak yang lulus, banyak yang menang olimpiade merasa baik-baik saja padahal kita salah satu negara dengan mutu paling buruk di dunia,” pungkasnya.




    (CEU)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE
    MORE

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id