comscore

Kemenag Lebak Targetkan Seluruh Ponpes Ramah Anak Cegah Kekerasan Seksual

Antara - 04 Juli 2022 18:43 WIB
Kemenag Lebak Targetkan Seluruh Ponpes Ramah Anak Cegah Kekerasan Seksual
Kepala Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Lebak Badrusalam. Branda Antara
Jakarta: Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Lebak Provinsi Banten menargetkan seluruh pondok pesantren (ponpes) ramah anak. Hal itu untuk mencegah tindakan kekerasan seksual.
 
"Kita secara bertahap ponpes di daerah ini dapat merealisasikan ramah anak," kata Kepala Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Lebak Badrusalam dikutip dari laman Antara, Senin, 4 Juli 2022.
 
Badrusalam mengatakan ponpes di Kabupaten Lebak yang sudah merealisasikan ramah anak masih relatif kecil dan terus ditingkatkan. Dia menyebut proses pembelajaran santri di lingkungan ramah anak tentu lebih nyaman, aman, kondusif, dan konsentrasi untuk menimba ilmu agama.
 
Saat ini, kata dia, sekitar puluhan ponpes sudah memiliki prasarana ramah anak. Prasarana ponpes ramah anak itu di antaranya pola pembelajaran dan asrama tempat tinggal terpisah antara santri laki-laki dan perempuan.
 
Selain itu, pengajarnya bila perempuan ditangani oleh perempuan dan sebaliknya bila laki-laki ditangani oleh laki-laki. Badrusalam mengatakan Kemenag Lebak terus mengoptimalkan pembinaan dan pengawasan terhadap kiai dan ustad pengelola ponpes.

Hal itu untuk memberikan perlindungan dan rasa aman bagi santri yang tengah mendalami ilmu agama Islam agar tidak menjadi korban kekerasan. "Kita minta pengelola ponpes agar bisa membangun sarana lingkungan ramah anak," tutur dia.
 
Badrusalam mengatakan jumlah ponpes di Kabupaten Lebak pada 2021 tercatat 2.020 unit tersebar di 28 kecamatan. Namun, sebagian besar dikelola tradisional atau Salafi.
 
Saat ini, ponpes yang dikelola modern sekitar 30 unit. Namun, ponpes modern hampir sebagian besar dilengkapi prasarana ramah anak.
 
"Kita mengapresiasi hingga kini belum menerima laporan adanya ponpes yang terlibat kasus kekerasan seksual yang menimpa santri perempuan," kata dia.
 
Badrusalam mengatakan untuk mengantisipasi kekerasan seksual kiai sebagai pengelola ponpes dapat menyampaikan edukasi tentang hukuman bagi pelaku perzinahan agar tidak terlibat perbuatan asusila. Selain itu, pengelola pesantren wajib menanamkan akhlak, tauhid, dan akidah kepada santri.
Sebab. pesantren sebagai pusat lembaga pendidikan agama Islam harus menjadi teladan dan contoh untuk membentuk akhlak karimah di masyarakat. "Kami meyakini dengan penanaman akhlak, tauhid, dan akidah dipastikan dapat mencegah perbuatan yang dilarang agama," kata dia.
 
Sementara itu, santriwati Ponpes Markaz Tahfizh Madinatul (MQL) Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Shopie dan Salsabila mengaku selama mengikuti proses pembelajaran di ponpes sangat ramah anak. Sehingga, memberikan kenyamanan dalam penyampaian metode penghafalan Al-Qur'an.
 
Selama tiga tahun belajar di ponpes itu dia mampu menghafal Al-Qur'an hingga 30 juz. Santri yang belajar di Ponpes MQL Rangkasbitung berasal dari berbagai daerah di sejumlah wilayah di Provinsi Banten, Aceh, Palembang, Makasar, DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Tengah.
 
"Kami mampu menghafal Al-Qur'an 30 juz, karena kondisi ponpes ramah anak dan belajar tenang dan terkonsentrasi hafalan yang ditargetkan sehari dua lembar ayat suci Al-Qur'an," kata dia.
 
Baca juga: Muhaimin: Pesantren Harus Mengantisipasi Kekerasan Seksual
 


(REN)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id