• DONASI PALU/DONGGALA :
    Tanggal 23 NOV 2018 - RP 51.179.914.135

  • Salurkan Donasi Anda: (BCA - 309.500.6005) A/n Yayasan Media Group

  • Salurkan Donasi Anda: (Mandiri - 117.0000.99.77.00) A/n Yayasan Media Group

  • Salurkan Donasi Anda: (BRI - 0398.01.0000.53.303) A/n Yayasan Media Group

Perguruan Tinggi Tanggapi Kritikan Presiden

Rektor Sebut Kemenristekdikti Super Birokratif

Citra Larasati - 12 Oktober 2018 21:56 wib
Rektor Universitas Widya Mataram Yogyakarta, Edy Suandi Hamid,
Rektor Universitas Widya Mataram Yogyakarta, Edy Suandi Hamid, dokumentasi pribadi.

Jakarta:  Kritikan Presiden Joko Widodo tentang lambannya perguruan tinggi merespons perubahan global mengundang kritik balik dari para Rektor.  Perguruan tinggi justru menilai, lambannya perubahan terjadi, salah satunya dipicu kinerja Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) yang super birokratif dan kurang inovatif.

Rektor Universitas Widya Mataram Yogyakarta, Edy Suandi Hamid menilai apa yang disampaikan Presiden di hadapan para rektor perguruan tinggi tempo hari merupakan kritik konstruktif.  Salah satunya, untuk mengingatkan juga kepada Kemenristekdikti yang selama ini dinilai lambat dan super birokratif.

"Kemenristekdikti itu sering mendengungkan agar perguruan tinggi inovatif, tapi di kemenristekdikti sendiri justru lambat merespons perubahan. Super birokratif.  Jangan selalu menyalahkan perguruan tingginya," kata Edy, kepada Medcom.id, di Jakarta, Jumat, 12 Oktober 2018.

Salah satu contoh super birokratif terlihat saat perguruan tinggi mengajukan izin pembukaan program studi (prodi) baru.  "Silakan tanya ke semua rektor, betapa lamanya untuk prosedur normal?" ungkap mantan Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi) ini.

Baca:  Presiden: Perguruan Tinggi Lamban Respons Perubahan Global

Akibatnya, perguruan tinggi sering mencari berbagai cara agar pendirian prodi bisa cepat. "Seharusnya kurang dari setahun beres, sekarang ada yang bertahun-tahun," sesal Mantan Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) ini.

Meski begitu, ia juga mengingatkan kepada pihak perguruan tinggi agar memenuhi syarat lengkap sebelum mengajukan pendirian prodi.   "Jangan belum lengkap sudah dilakukan," tegasnya.

Bahkan ide perusahaan yang disampaikan Menristekdikti sendiri sering ditanggapi sinis, karena lambatnya eksekusi. Kritik Edy ini sebenarnya dapat dilihat dari bagaimana Kemenristekdikti merespons masukan Presiden Jokowi.

"Imbauan presiden ini kan bukan kali ini saja, sudah pernah disampaikan sebelumnya," ungkap mantan Ketua Forum Rektor Indonesia (FRI) ini.



(CEU)


BACA JUGA
BERITA LAINNYA

Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.