KPAI Minta Nadiem Lanjutkan Kebijakan Zonasi

    Intan Yunelia - 30 Oktober 2019 15:52 WIB
    KPAI Minta Nadiem Lanjutkan Kebijakan Zonasi
    Jumpa Pers KPAI saat memberi masukan untuk Mendikbud, Nadiem Makarim. Foto: Medcom.id/Intan Yunelia
    Jakarta: Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mendorong Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Anwar Makarim melanjutkan upaya pemerataan kualitas pendidikan lewat pendekatan zonasi pendidikan. Zonasi diharapkan tidak hanya berhenti di Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tapi juga membenahi berbagai standar nasional pendidikan.

    "Mulai dari kurikulum, sebaran guru, sebaran peserta didik sampai kualitas sarana prasarana akan ditangani berbasis zonasi," kata Komisioner KPAI Bidang Pendidikan, Retno Listyarti saat Jumpa Pers, di Kantor KPAI, Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta, Rabu, 30 Oktober 2019.

    Penerapan sistem zonasi bertujuan untuk pemerataan pendidikan yang berkualitas, sehingga diharapkan dapat mengatasi ketimpangan di masyarakat. Nadiem perlu duduk bersama dengan melibatkan tujuh Kementerian dan Lembaga terkait.

    Di antaranya Kemendagri, Kemendikbud, Kemenag, Kementerian Keuangan, Bappenas, KemenPUPR, dan KemenPAN-RB.

    "Untuk pemerataan pendidikan yang berkualitas, Kemendikbud memetakan penataan dan pemerataan guru, pemerataan infrastruktur, sharing resource, dan integrasi pendidikan formal dan nonformal," ujar Retno.

    Tak hanya itu, KPAI juga mendorong Nadiem mengembalikan marwah dan cita-cita pendidikan sesuai dengan pemikiran awal Ki Hajar Dewantara. Bahwa 'Pendidikan merupakan proses pembudayaan, yakni suatu usaha memberikan nilai-nilai luhur kepada generasi baru dalam masyarakat yang tidak hanya bersifat pemeliharaan, tetapi juga dengan maksud memajukan serta mengembangkan kebudayaan menuju ke arah keluhuran hidup manusia'. 

    "Artinya pendidikan itu sejatinya menguatkan kebudayaan dan nilai-nilai luhur bangsa kepada generasi muda dan peserta didik," jelas Retno.

    Ia memaparkan, bahwa Ki Hajar Dewantara membedakan antara sistem 'Pengajaran' dan 'Pendidikan'. Pendidikan dan pengajaran idealnya memerdekakan manusia secara lahiriah dan batiniah, hal ini selalu relevan untuk segala zaman.

    Pengajaran menurutnya, bersifat memerdekakan manusia dari hidup lahiriah (kemiskinan dan kebodohan). Sedangkan pendidikan lebih memerdekan manusia dari aspek hidup batin (otonomi berpikir dan mengambil keputusan, martabat, dan mentalitas demokratik).

    "Menurut Ki Hajar Dewantara, tujuan dari pendidikan adalah penguasaan diri, sebab di sinilah pendidikan memanusiakan manusia. Penguasaan diri merupakan langkah yang dituju untuk tercapainya pendidikan yang memanusiakan manusia. Pendidikan tidak semata-mata bertujuan untuk mendapatkan pekerjaan," tuturnya.




    (CEU)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id