Jumlah Siswa Mahir Matematika Hanya Satu Persen

    Muhammad Syahrul Ramadhan - 04 Desember 2019 17:45 WIB
    Jumlah Siswa Mahir Matematika Hanya Satu Persen
    Ilustrasi. Foto: Medcom.id/Citra Larasati
    Jakarta:  Ada sejumlah data menarik dari laporan penilaian Programme for International Student Assessment (PISA) 2018.  Tidak hanya peringkat nilai siswa Indonesia yang melorot di tiga kompetensi utama, lebih dari itu, jumlah siswa yang mencapai level mahir dalam tiga kompetensi tersebut juga sangat sedikit.

    Data PISA 2018 mengungkapkan fakta, bahwa hanya sedikit siswa Indonesia yang memiliki kemampuan tinggi dalam satu mata pelajaran.  Pada saat bersamaan sedikit juga siswa yang meraih tingkat kemahiran minimum dalam satu mata pelajaran.

    Dalam kemampuan membaca misalnya, hanya 30 persen siswa Indonesia yang mencapai setidaknya kemahiran tingkat dua dalam membaca. Bandingkan dengan rata-rata negara OECD yakni 77 persen siswa yang sudah 'tamat' di level tersebut.

    Sedangkan untuk kompetensi Matematika, hanya 28 persen siswa Indonesia yang mencapai kemahiran tingkat dua OECD, yang mana rata-rata OECD yakni 76 persen. Artinya, dalam tingkatan itu siswa dianggap sudah dapat menafsirkan dan mengenali, tanpa instruksi langsung, serta bagaimana situasi dapat direpresentasikan secara matematis.

    "Namun sayangnya, jumlah siswa Indonesia yang menguasai kemampuan matematika tingkat tinggi (tingkat lima ke atas) hanya satu persen.  Sedangkan rata-rata OECD sebanyak 11 persen," kata Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Guru Indonesia (IGI), Muhammad Ramli Rahim, di Jakarta, Rabu, 4 Desember 2019.

    Kemudian untuk bidang sains, sekitar 40 persen siswa Indonesia mencapai level dua, bandingkan dengan rata-rata OECD yakni 78 persen.  Pada kemampuan tingkat dua, siswa dinilai dapat mengenali penjelasan yang benar untuk fenomena ilmiah yang dikenal dan dapat menggunakan pengetahuan tersebut untuk mengidentifikasi, dalam kasus-kasus sederhana.

    OECD merilis untuk sampel PISA pada 2001 hanya mencakup 46 persen anak usia 15 tahun di Indonesia. Sedangkan pada 2018, sampel OECD sudah mencakup 85 persen anak usia 15 tahun di Indonesia.

    "OECD juga menyebut perlunya upaya peningkatan sistem pendidikan di Indonesia," imbuh Ramli.

    PISA merupakan survei tiga tahunan yang menilai kemampuan siswa berusia 15 tahun, yang telah memperoleh pengetahuan dan keterampilan utama untuk berpartisipasi dalam masyarakat.  Penilaian tersebut fokus pada kemahiran membaca, matematika, sains, domain inovatif, dan kesejahteraan siswa.

    Untuk survei PISA 2018, domain inovatif berfokus pada kemahiran dalam membaca, matematika, sains, dan domain inovatif. Untuk survei PISA 2018, domain inovatifnya adalah kompetensi global.

    Hasil PISA menjadi penting, karena melalui penilaian tersebut dapat mengukur sejauh mana siswa pada akhir pendidikan, dapat menerapkan apa yang dipelajarinya dalam kehidupan masyarakat.

    Hasil PISA itu juga memungkinkan pihak terkait untuk mengidentifikasi keberhasilan dalam bidang pendidikan dan pelajaran lainnya. Dengan demikian, hasil PISA dapat digunakan untuk intervensi pendidikan.

    Programme for International Student Assessment (PISA) yang diinisiasi oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) adalah suatu studi untuk mengevaluasi sistem pendidikan yang tahun ini diikuti oleh 77 negara di seluruh dunia.



    (CEU)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id