KPAI Sebut Banyak Kasus Covid-19 di Pesantren yang Dibuka

    Ilham Pratama Putra - 28 Juli 2020 11:37 WIB
    KPAI Sebut Banyak Kasus Covid-19 di Pesantren yang Dibuka
    Ilustrasi. Foto: Dok Medcom
    Jakarta: Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyebut beberapa pondok pesantren (Ponpes) di zona hijau telah memulai kegiatan. Namun, KPAI justru mendapati kasus virus korona (covid-19) muncul di ponpes yang menggelar belajar tatap muka.

    "Pada 30 Juni 2020, Kepala Bagian Pendidikan Kantor Kemenag Kota Tangerang Yana Karyana mengatakan lima pengajar di sebuah ponpes di Karawaci Kota Tangerang sudah dalam perawatan di sebuah rumah sakit," ujar Komisioner KPAI Bidang Pendidikan, Retno Listyarti, dalam keterangan tertulis, Selasa, 28 Juli 2020.

    Dia menyebut ponpes tersebut terpaksa menghentikan sementara kegiatan pembelajaran, lantaran lima guru itu terpapar covid-19. Kemudian, kata Retno pada 17 Juli 2020, sebanyak 35 santri dinyatakan positif covid-19 di ponpes Sempon, Kecamatan Jatisrono, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.

    "Sebelumnya, jumlah penghuni pondok sempon terkonfirmasi positif sembilan orang, pada 17 Juli itu bertambah 26 orang, sehingga total menjadi 35 orang," kata dia.

    Baca: KPAI: Sekolah Belum Siap Jalankan Kenormalan Baru

    Temuan lainnya, Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni mengumumkan tambahan 11 pasien positif Covid-19 di Ponorogo pada 20 Juli 2020. Sebanyak delapan di antaranya merupakan santri Pondok Modern Darussalam Gontor 2 di Kecamatan Siman, Ponorogo.

    "Sehingga, terdapat 51 santri Pondok Gontor 2 yang dinyatakan positif covid-19 hingga saat ini," ujar Retno.

    Selanjutnya, kata dia, Kepala Dinas Pendidikan Kota Pariaman, Sumatera Barat, Kanderi mengatakan, terdapat sejumlah guru yang positif covid-19 setelah dilakukan tes swab massal terhadap 1.500 guru. Rupanya, guru yang positif covid-19 itu sempat melakukan pembelajaran tatap muka sejak 13 Juli 2020.

    KPAI mendorong Pemerintah untuk bertindak hati-hati dalam membuka sekolah dan tidak membuka sekolah tatap muka. Terlebih, saat sekolah belum mampu memenuhi infrastruktur dan ketentuan protokol kesehatan yang ditetapkan World Health Organisation (WHO).

    "Kesehatan dan keselamatan anak-anak harus jadi pertimbangan utama dan pertama, perbaiki Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dan siapkan dahulu infrastruktur serta budaya kenormalan baru  sebelum buka sekolah,” ungkap Retno.

    (AGA)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id