comscore

Seabad Lalu Konsep KLB Sudah Dikenal untuk Selesaikan Konflik Partai

Media Indonesia.com - 10 Maret 2022 10:03 WIB
Seabad Lalu Konsep KLB Sudah Dikenal untuk Selesaikan Konflik Partai
Buku Panggung Demokrasi 1921: Haji Agus Salim vs Semaoen. Foto: Istimewa
Jakarta: Buku berjudul Panggung Demokrasi 1921: Haji Agus Salim vs Semaoen yang ditulis wartawan senior Suradi memberi perspektif historis kuat tentang bagaimana penyelesaian konflik di internal partai politik. Meski terjadi pada seabad silam, tetapi benang merah masalah tersebut masih sangat relevan dengan persoalan politik saat ini.

Apa yang diungkap dalam buku yang baru terbit tersebut? Pada keterangan tertulisnya, Suradi menyebutkan buku yang dia buat fokus pada pembedahan konflik internal dalam tubuh Partai Sarekat Islam (PSI) pada dekade kedua abad XX.
Dua tokoh yang mewakili kaum muda dan tua serta ideologi Islam dan Komunis, yakni Haji Agus Salim dan Semaoen, menjadi sentral dalam pembahasan buku ini. Kedua kubu saling berdebat dan meyakinkan pendukungnya melalui surat kabar dan rapat-rapat partai. 

"Dapat dikatakan, panggung politik saat itu cukup riuh, di samping persoalan yang ada di tanah jajahan yang masih bernama Hindia Belanda," kata Suradi, Rabu, 9 Maret 2022. 

Guna mencari penyelesaian konflik, disepakati menggelar Kongres Luar Biasa Central Sarekat Islam (KLB-CSI) di Surabaya  6-11 Oktober 1921. KLB ini digelar untuk menyelesaikan konflik di antara pemimpin Sarekat Islam (SI) yang berbeda pandangan dan haluan atau strategi perjuangan, menghadapi situasi perubahan masyarakat di awal 1920-an. 

Nah, KLB benar-benar menjadi ‘panggung demokrasi’ sebab masing-masing pihak diberikan kesempatan untuk mengungkapkan pemikiran, konsep, strategi, dan landasan (isme) perjuangan. Tidak ada banting meja atau kekerasan yang sering terlihat dalam penyelesaian konflik internal partai di masa modern. 

"Bahkan ketika konflik tetap tidak bisa diselesaikan dengan cara yang sangat beradab, yakni dengan berbagai argumentasi di forum KLB, maka jalan akhir ditempuh dengan pemungutan suara atau voting," kata dia.

Baca: ILUNI UI Ingatkan Regresi Demokrasi Harus Ditangani

Dijelaskan Suradi, sejarah telah mencatat bahwa dalam KLB yang mempertemukan pihak yang berkonflik, dalam konteks ini kelompok Haji Agus Salim dan kelompok Semaoen yang masih relatif muda dan dianggap revolusioner, berakhir dengan disiplin partai. Setelah hasil voting menunjukkan kelompok Haji Agus Salim lebih banyak pendukung. 

Semaoen kemudian dikeluarkan dari Sarekat Islam dan lebih banyak aktif sebagai pemimpin Partai Komunis Hindia yang kemudian berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI).

Buku Panggung Demokrasi 1921: Haji Agus Salim vs Semaoen ini dibuat dengan konsep simpel. Tidak bertele-tele dan fokus pada satu topik saja. 

"Karena itu bentuk bukunya juga kecil dan tidak tebal. Tujuannya seperti konsep penerbitan buku seri "For Beginners", yakni bagaimana konsep-konsep serius dijelaskan dalam buku dengan sederhana, menarik, namun komprehensif," kata Suradi.

Baca: Parpol Dinilai Minim Bangun Agenda Kepentingan Perempuan

Buku ini semacam lanjutan dari penelitian Suradi saat menyelesaikan kuliahnya di Jurusan Sejarah Universitas Indonesia (UI). Saat itu ia meneliti  soal Sarekat Islam, khususnya pemikiran Haji Agus Salim. 

Tugas akhirnya itu kemudian diterbitkan dalam bentuk buku dengan judul Haji Agus Salim dan Konflik Politik dalam Sarekat Islam yang diterbitkan Pustaka Sinar Harapan pada 1997. Buku itu diberi pengantar oleh  Taufil Abdullah dan dicetak ulang Penerbit Matapadi, Yogyakarta pada 2014.

(UWA)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id