comscore

Vaksin Merah Putih Disebut Awal Kemandirian Bidang Industri Kefarmasian Indonesia

Renatha Swasty - 28 Juni 2022 12:26 WIB
Vaksin Merah Putih Disebut Awal Kemandirian Bidang Industri Kefarmasian Indonesia
Wakil Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan (Farmalkes) Agusdini Banun Saptaningsih. DOK Unair
Jakarta: Wakil Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan (Farmalkes) Agusdini Banun Saptaningsih menyampaikan apresiasi pada Universitas Airlangga (Unair) yang telah berkolaborasi dengan PT Biotis Pharmaceuticals Indonesia mengembangkan Vaksin Merah Putih. Vaksin covid-19 itu tengah memasuki uji klinik tahap 3. 

“Ini merupakan langkah besar dalam upaya bangsa Indonesia mewujudkan kemandirian di bidang produksi vaksin, terutama vaksin covid-19,” kata Agusdini dikutip dari laman unair.ac.id, Selasa, 28 Juni 2022. 
Agusdini menjelaskan Indonesia merencanakan transformasi dalam sistem kesehatan pada krisis pandemi covid-19. Salah satunya dalam bidang kefarmasian, termasuk produksi vaksin.

“Kick off Vaksin Merah Putih Fase 3 hari ini menjadi bentuk kesiapan infrastruktur research dan manufacture serta sumber daya manusia dalam negeri dalam produksi vaksin,” tutur Direktur Produksi dan Distribusi Kefarmasian itu.

Dia juga menyampaikan selain menjadi vaksin utama, pemerintah turut mendorong penggunaan Vaksin Merah Putih menjadi vaksin booster dan vaksin untuk anak. Pemerintah akan mendorong Vaksin Merah Putih terakses global, sehingga terdaftar pada emergency use listing WHO (World Health Organization).

“Dalam rangka menyukseskan bangga buatan Indonesia, pemerintah mendukung penggunaan Vaksin Merah Putih untuk meningkatkan produk obat maupun bahan baku obat yang sudah dapat diproduksi lokal,” ucap dia.

Sementara itu, Kepala BPOM Penny Kusumastuti Lukito juga turut menuturkan rencana pemberian Vaksin Merah Putih pada anak. Uji klinis Vaksin Merah Putih untuk anak akan berlangsung paralel saat uji klini fase tiga terbukti aman. 

Selain itu, Penny mengungkapkan pengembangan vaksin karya anak bangsa tersebut berdapak positif pada industri farmasi. “Ada dampak lain pada pengembangan ini. BPOM melihat aspek positif dalam pengembangan industri farmasi Indonesia dan kemandirian bangsa Indonesia dalam menghadapi virus ke depan,” tutur Penny.

Penny juga menuturkan Indonesia membutuhkan lebih dari satu industri farmasi yang dapat memproduksi vaksin sehingga memiliki andil besar dalam vaksin internasional. Dia juga mengungkapkan BPOM sebagai regulator akan terus bekerja keras meyakinkan negara lain terhadap kredibilitas aspek mutu farmasi di Indonesia.
 
Baca juga: BPOM Siap Dukung Vaksin Merah Putih Hingga Tahap Produksi

 

(REN)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id