Prediksi UGM: La Nina Terjadi Akhir Tahun Hingga Februari 2021

    Arga sumantri - 13 Oktober 2020 08:07 WIB
    Prediksi UGM: La Nina Terjadi Akhir Tahun Hingga Februari 2021
    Ilustrasi. Foto: Antara/Wahyu Putro.
    Yogyakarta: Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) beberapa hari terakhir menyebut akan terjadi iklim anomali La Nina di Indonesia. Berdasarkan historis La Nina di Indonesia, fenomena ini bisa menyebabkan terjadinya peningkatan akumulasi jumlah curah hujan bulanan hingga 40 persen di atas normal.

    Sekretaris Pusat Studi Bencana UGM, Andung Bayu, mengatakan, La Nina dan pasangannya yaitu El Nino, atau seringkali disebut dengan El-Nino Southern Oscillation/ENSO, merupakan satu gejala perubahan atmosfer yang umumnya memengaruhi kondisi cuaca secara musiman di Indonesia dan negara-negara lain di sekitar Samudra Pasifik. 

    La Nina adalah peristiwa turunnya suhu air laut di Samudera Pasifik di bawah suhu rata rata sekitarnya. Sedangkan, El Nino adalah kejadian di mana suhu air laut yang ada di Samudra Pasifik memanas di atas rata-rata suhu normal.

    "El Nino dan La Nina memiliki rentang waktu pengulangan setiap dua hingga tujuh tahun. Berdasarkan acuan sejarah, El Nino ditemukan terlebih dahulu dibanding La Nina," kata Andung melalui siaran pers UGM yang dikutip Selasa, 13 Oktober 2020.

    Ia menjelaskan, El Nino merupakan sebuah peristiwa yang terjadi dan diamati oleh penduduk dan nelayan Peru dan Ekuador. Mereka bermukim di sekitar pantai Samudera Pasifik bagian timur. El Nino biasanya terjadi pada Desember. Peristiwa yang diamati oleh masyarakat tersebut adalah peristiwa meningkatnya suhu air laut.

    Setelah lama diteliti, para ahli ternyata juga menemukan peristiwa kebalikan dari El Nino, yaitu peristiwa di mana suhu air laut menghangat dan diberi nama La Nina. La Nina ini disebabkan oleh suhu permukaan laut pada bagian barat dan timur Pasifik yang menjadi lebih tinggi daripada biasanya.

    Kejadian tersebut, dijelaskan Andung, menyebabkan tekanan udara pada ekuator Pasifik barat menurun sehingga mendorong pembentukkan awan berlebihan dan menyebabkan curah hujan tinggi pada daerah yang terdampak. Sebaliknya, El Nino disebabkan oleh meningkatnya suhu perairan di Pasifik timur dan tengah yang mengakibatkan meningkatnya suhu dan kelembaban pada atmosfer yang berada di atasnya, sehingga peristiwa ini menyebabkan pembentukan awan yang juga meningkatkan curah hujan pada kawasan tersebut.
     

    Read All


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id