ITS: Jurnal Internasional Memacu Kampus Berinovasi

    Ilham Pratama Putra - 03 Februari 2020 14:34 WIB
    ITS: Jurnal Internasional Memacu Kampus Berinovasi
    Ilustrasi Medcom.id/ Mohammad Rizal
    Jakarta: Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Mochamad Ashari menilai jurnal internasonal memilki sejumlah manfaat.  Adanya pernyataan legislator yang menyebut kewajiban menerbitkan karya ilmiahnya di jurnal internasional dapat memberatkan peneliti dinilai keliru.

    Menurut Ashari, dengan dorongan penerbitan jurnal internasional, justru akan lebih memacu kampus untuk menciptakan temuan baru. Sehingga akhirnya bermanfaat bagi masyarakat.

    "Kampus dituntut untuk menerbitkan inovasi yang banyak, juga dituntut untuk melakukan inovasi, supaya produk itu berlanjut, bisa dirasakan oleh masyarakat," kata Ashari kepada Medcom.id, Senin 3 Februari 2020.

    Menurutnya, jikapun memberatkan, hal itu hanya terkait lingkungan penelitian yang akan diteliti. Misalnya satu tempat yang aksesnya masih sulit di Indonesia.

    Namun, bagi Ashari hal tersebut dapat diatasi dengan bagaimana seluruh pihak berkoordinasi dan saling mendukung munculnya suatu produk yang dibutuhkan masyarakat.  Agar setiap hasil publikasi tidak menjadi sia-sia.

    "Selama ini kan memang publikasi sudah semburat ke mana-mana. Sekarang Tinggal kita koordinatif untuk mengarah ke satu produk yang dibutuhkan oleh masyarakat," jelas dia.

    ITS sendiri pada 2019 lalu telah mengeluarkan 1.321 jurnal Internasional.  Jurnal tersebut sudah terindeks dalam jurnal internasional Scopus maupun Thomson.

    Dia menargetkan, pada tahun-tahun mendatang ITS akan lebih produktif lagi.  Sebanyak 1.500 jurnal ilmiah ditargetkan akan meluncur dari ITS sepanjang 2020.

    Sebelumnya, Anggota Komisi X DPR dari fraksi Partai Gerindra, Djohar Arifin Husin mengusulkan kepada Mendikbud, Nadiem Makarim agar kewajiban dosen menerbitkan karya ilmiah di jurnal internasional sebagai syarat kenaikan dan mempertahankan jabatan fungsional dihapuskan. Djohar menilai kewajiban itu minim manfaat, bahkan dalam praktiknya hanya menyulitkan dosen.
     
    "Ada yang sampai menggadaikan sepeda motornya. Ada yang mobil. Macam-macam penderitaan dosen-dosen karena harus menulis (karya ilmiah yang diterbitkan di jurnal internasional). Ini hendaknya dihapuslah," kata Djohar dalam rapat kerja Komisi X dengan Kemendikbud di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa 28 Januari 2020.
     
    Djohar bahkan menilai, kewajiban publikasi karya ilmiah di jurnal internasional untuk kenaikan jabatan fungsional terasa mengada-ada. Sebab kebijakan tersebut justru lebih banyak merugikan.



    (CEU)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id