Seminari di NTT Beri Klarifikasi Soal Siswa Makan Feses

    Muhammad Syahrul Ramadhan - 27 Februari 2020 18:43 WIB
    Seminari di NTT Beri Klarifikasi Soal Siswa Makan Feses
    ilustrasi. Foto: Media Indonesia
    Jakarta:  Pimpinan Seminari Bunda Segala Bangsa Maumere, Romo Deodatus Du'u meluruskan duduk perkara kasus 77 siswa yang diberitakan dipaksa memakan feses manusia oleh kakak kelas.  Kejadian tersebut terjadi pada Rabu, 19 Februari 2020. 

    "Terminologi 'makan' yang dipakai oleh beberapa media saat memberitakan peristiwa ini agaknya kurang tepat.  Sebab yang sebenarnya terjadi adalah seorang kakak kelas menyentuhkan sendok yang ada feses pada bibir atau lidah siswa kelas VII," kata Deodatus dalam keterangan tertulis yang diterima Medcom.id, Kamis, 27 Februari 2020.

    Deodatus menegaskan, aksi itu bukan dilakukan oleh pembina atau pendamping.  Melainkan dilakukan dua siswa kelas XII yang bertugas menjaga kebersihan area asrama siswa kelas VII.

    Baca:  Sekolah Diimbau Bentuk Tim Pencegahan Kekerasan

    Deodatus menjelaskan, insiden itu bermula ketika salah seorang siswa kelas VII membuang kotorannya sendiri di kantong plastik yang disembunyikan dalam lemari kosong di kamar tidur.  Feses tersebut ditemukan oleh kakak kelas XII yang tengah bertugas menjaga kebersihan area asrama siswa kelas VII.

    Namun ketika ditanya siapa yang membuang, tidak ada yang mengaku.  Kedua kakak kelas tersebut pun naik pitam, dan salah seorang kakak kelas mengambil kotoran dengan sendok makan dan menyentuhkannya ke bibir dan lidah siswa kelas VII.

    Adapun perlakuan yang didapat setiap siswa kelas VII berbeda.  Para kakak kelas itu juga meminta siswa kelas VII untuk tutup mulut dan tidak melapor ke Romo maupun Frater.

    Kejadian itu terungkap ketika salah satu siswa kelas VII mendatangi para pembina pada Jumat, 21 Februari 2020. Siswa itu datang bersama orang tuanya untuk melaporkan kejadian yang ia alami.

    Baca juga: Siswa Alami Trauma Setelah Dipaksa Memakan Feses

    Mendengar laporan tersebut, Deodatus dan seluruh jajarannya langsung mengambil respons cepat. Setelah mempelajari kronologi kejadian, kedua kakak kelas tersebut telah meminta maaf di hadapan orang tua terkait masalah ini.

    Seminari juga mendampingi para siswa kelas VII untuk pemulihan mental dan menghindari trauma. "Bagi kami, peristiwa ini menjadi sebuah pembelajaran untuk melakukan pembinaan secara lebih baik di waktu-waktu yang akan datang. Kami berterima kasih atas segala kritik, saran, nasihat, dan teguran yang bagi kami menjadi sesuatu yang sangat berarti.  Dengan harapan agar lembaga ini terus didoakan dan didukung supaya menjadi lebih baik,” tandasnya.




    (CEU)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id