Dugaan Gratifikasi THR Coreng Citra UNJ

    Muhammad Syahrul Ramadhan - 23 Mei 2020 10:13 WIB
    Dugaan Gratifikasi THR Coreng Citra UNJ
    Ilustrasi. Medcom.id
    Jakarta: Juru Bicara Forum Alumni (Forluni) Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Jakarta Ide Bagus Arief Setiawan menegaskan kasus dugaan gratifikasi Rektor UNJ Komarudin kepada sejumlah pejabat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), mencoreng citra kampus. Terlebih, UNJ merupakan lembaga pendidikan yang mencetak para guru.

    "Kami menyesalkan UNJ terseret kasus yang membuat namanya menjadi semakin terpuruk," tegas Ide Bagus dalam siaran pers, Sabtu, 23 Mei 2020.

    Ide mengatakan, ini bukan satu-satunya kasus yang membuat nama kampus tercoreng. UNJ sempat terkena kasus dugaan plagiarisme sekitar dua tahun lalu.

    "Kini lebih buruk lagi, Rektor UNJ diduga melakukan gratifikasi THR (tunjangan hari raya) kepada pejabat Kemendikbud," ujarnya

    Ide Bagus mempertanyakan motif gratifikasi menjelang Lebaran ini. Ia meminta kasus ditelusuri lebih dalam. Tujuannya, memastikan dunia perguruan tinggi bersih dari budaya korupsi, termasuk Kemendikbud.

    ?Forluni UNJ pun mendorong agar ada perubahan sistem tata kelola di UNJ. Salah satunya, dengan memiliki satuan pengawas internal yang bekerja independen untuk mengawasi perilaku menyimpang di dalam kampus.

    Pengawas ini juga diyakini bisa menumbuhkan budaya transparansi pengunaan anggaran. Dengan begitu, laporan keuangan dapat diakses oleh publik dan terbuka.

    "Kami ingin ada perbaikan menyeluruh dan mendalam terhadap tata Kelola UNJ. Tidak boleh lagi kasus memalukan ini terjadi. Karena UNJ adalah lembaga pencetak tenaga Pendidikan yang seharusnya dapat menjadi contoh dan pembentuk karakter," tuturnya.

    Rektor UNJ Komarudin dan beberapa pejabat Kemendikbud terjaring Operasi Tangkap Tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Komarudin diduga melakukan tindakan gratifikasi berkedok Tunjangan Hari Raya (THR) kepada Kemendikbud.
     
    Barang bukti yang disita berupa uang sebesar US$1.200 dan Rp27,5 juta. Namun, KPK telah melimpahkan kasus ini kepada kepolisian. 



    (AGA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id