comscore

Penutupan, Catat Jadwal Pekan Kebudayaan Nasional Hari Ini

Citra Larasati - 26 November 2021 14:18 WIB
Penutupan, Catat Jadwal Pekan Kebudayaan Nasional Hari Ini
Dirjen Kebudayaan Kemendikbudristek, Hilmar Farid. Foto: Zoom
Jakarta:  Pelaksanaan Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) 2021 telah berlangsung sejak 19 November dan akan berakhir hari ini, Jumat, 26 November 2021.  Hari terakhir PKN akan diisi oleh sejumlah tayangan, mulai dari tari, kuliner, fesyen hingga film dokumenter sebagai penutup.

Dirjen Kebudayaan Kemendikbudristek, Hilmar Farid mengatakan, PKN 2021 adalah festival-dengan-misi mengolah inspirasi cemerlang kearifan lokal untuk menjawab tantangan kekinian. Misi ini tercermin dalam keseluruhan rangkaian PKN 2021 dan memuncak pada tanggal 26 November 2021.
Hari terakhir PKN 2021 diawali dengan tayangan tari di indonesiana.tv pukul 16.00 WIB. Acara yang menghadirkan karya tari Poleng Bali oleh Ayu Laksmi ini mengangkat kearifan lokal dalam memaknai kebutuhan pangan masyarakat dan budaya gotong royong dalam praktik Subak.

"Semangat mengangkat kearifan lokal ini digarisbawahi kembali dalam tayangan sesudahnya, Cultural Fashion, yang menghadirkan khazanah batik dan songket," kata Hilmar dalam keterangan tertulisnya, Jumat, 26 November 2021.

Tidak berhenti di situ, upaya mengangkat kearifan lokal dalam hidup sehari-hari juga mengemuka dalam program Icip-Icip Pangan yang mengenalkan cara mengolah masakan dengan gerabah dan tanah liat.  Aneka kearifan lokal itu juga mengemuka dalam hal yang paling kita terima begitu saja tanpa kita pikirkan, seperti rumah yang kita tinggali.

Baca juga:  Riri Riza Ramaikan PKN Lewat 'Alam Takambang Jadi Guru: Serambi Minangkabau

Inilah yang diangkat dalam program Di Dalam Indonesia dengan tajuk “Kearifan Lokal dalam Rumah Modern.” "Lewat tontonan ini, kita dapat kembali mengapresiasi bagaimana kebudayaan Nusantara masih menetap bahkan dalam pola arsitektur modern yang kita jumpai sehari-hari," terang Hilmar.

Demikian pula dengan pakaian yang kita gunakan sehari-hari. Inilah yang tergambar dalam tayangan “Selendang Sirat Serat,” sebuah film tari tentang khazanah serat Nusantara dengan tampilan visual yang apik. 

Rangkaian kegiatan hari terakhir ini memuncak dalam acara penutupan yang mengangkat tema “Semesta di Belakang Rumah” pada pukul 19.30 WIB. Acara ini dikoreografikan dengan menggunakan anasir-anasir padi, jagung, beras dan properti pendukung lainnya.

Pada prinsipnya, dalam mengartikulasikan aspek pangan, karya ini tidak memaknai pangan terbatas sebagai “kebutuhan untuk makan” saja.  Tetapi lebih dalam, yaitu perlunya menekankan perjalanan dari suatu hubungan antara manusia dengan alam.

Keseruan acara penutupan ini dapat disaksikan pula secara luring lewat kegiatan nobar di Auditorium, Galeri Nasional Indonesia, Jakarta.  Acara ini kemudian dilanjutkan dengan konser interaktif, “Voice of Baceprot,” yang menghadirkan grup musik rock dengan semua personil perempuan.

Sebagai penutup, tampil sebuah film dokumenter tentang “Ragam Arsitektur Nusantara.” "Dengan sajian tentang aneka rancang bangun Nusantara, PKN 2021 meninggalkan pesan bagi kita bersama, perubahan gaya hidup baru dengan aneka inspirasi Cerlang Nusantara bisa dimulai dari saat ini," ujar Hilmar.

Kearifan Lokal

Menurut Hilmar, kearifan lokal adalah mikrokosmos dari keseluruhan tatanan hidup bangsa. "Tanpa disadari, kita hidup dengan dan di dalam kearifan lokal. Ini tercermin dalam laku sehari-hari, mulai dari pakaian yang kita gunakan, makanan yang kita konsumsi, dan hunian yang kita tinggali," terangnya.

Jika kearifan lokal tidak berhasil diberdayakan, akan terwujud ketidakseimbangan dalam tataran makro. Kekacauan hidup modern yang menimbulkan pandemi berkepanjangan ini adalah cerminan dari potret makrokosmik dari ketidakseimbangan hidup sehari-hari.

Untuk mengatasi itu kearifan lokal perlu lebih digali dan diberdayakan secara sadar untuk menjawab kebutuhan hidup paling dasar, yakni sandang, pangan, papan.  Sandang, pangan dan papan pada dasarnya tidak terpisah, ketiganya membentuk kesatuan hidup manusia.

Sandang tidak hanya soal pakaian, tetapi juga soal hidup yang baik (well being). Pangan tidak hanya soal makanan dan minuman, tetapi juga soal kesehatan raga dan jiwa.

Papan bukan hanya soal rumah, tetapi juga soal mengelola ruang hidup bersama. Pemenuhan atas ketiganya adalah syarat minimal bagi kehidupan yang bermartabat.

Menurutnya, martabat itu baru akan mengemuka jika kehidupan memberikan dampak baik pada semua, termasuk lingkungan alam sekitar. Semua ini terhubung satu sama lain, tidak ada pemenuhan atas sandang, pangan, dan papan, tanpa perwujudan tata hidup baru yang bermartabat, yang mengangkat derajat seisi dunia, yang memuliakan alam dan kearifan lokal.

Perbaikan yang bersifat sektoral, kata Hilmar, penting untuk dilakukan, tetapi tidak banyak artinya tanpa perubahan cara hidup.  Pandemi menghadirkan peluang untuk menggali kembali Cerlang Nusantara, yakni kearifan lokal yang membuat kita bertahan sebagai warga negeri kepulauan ini selama ribuan tahun.

Untuk itu perlu kembali menoleh pada praktik sosial vernakular yang terbukti menghasilkan tata hidup berkelanjutan. Lewat penggalian kembali itulah masyarakat mengembalikan keseimbangan makrokosmik, pemberdayaan kearifan lokal sebagai pendekatan terpadu dari bawah untuk menjamin pemenuhan kebutuhan paling pokok manusia, sandang, pangan, papan.

"Inilah visi besar yang dibawa oleh Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) 2021," tutup Hilmar.

(CEU)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id