Jumlah Sekolah Inklusi di Padang Terus Melejit

    Antara - 17 Februari 2021 12:29 WIB
    Jumlah Sekolah Inklusi di Padang Terus Melejit
    Ilustrasi. Medcom.id



    Padang: Jumlah sekolah inklusi atau sekolah yang juga memberikan pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus (ABK) di Kota Padang, Sumatra Barat, terus meningkat. Hingga saat ini, jumlah sekolah inklusi tercatat 243 unit.

    Kepala Tata Usaha UPTD Layanan Disabilitas dan Pendidikan Inklusif (LDPI) Dinas Pendidikan Kota Padang Gama Hartadini mengatakan dari 243 sekolah inklusi itu, terdapat 44 PAUD/TK, 161 SD, dan 38 SMP.




    Ia menyebutkan jumlah sekolah inklusi terus meningkat setiap tahun, pada 2013 ada 67 sekolah, 2014 ada 75 sekolah, 2015 ada 109 sekolah, 2016 ada 133 sekolah, 2017 ada 154 sekolah, 2018 ada 191 sekolah, 2019 ada 216 sekolah. Data terakhir per September 2020, ada 243 sekolah.

    Ia mengatakan jumlah siswa ABK yang tengah menjalani pendidikan inklusi di sekolah reguler 1.275 siswa. Mereka tersebar di tiga tingkat sekolah, yakni 25 siswa di TK/PAUD terdiri atas enam perempuan dan 19 laki-laki,1.020 siswa SD terdiri atas 336 perempuan dan 684 laki-laki, dan 230 siswa SMP terdiri atas 78 perempuan dan 152 laki-laki.

    Baca: Tak Sanggup Mengikuti Belajar Daring, 119 Pelajar Pilih Menikah

    Ia mengatakan di sekolah inklusi juga ada guru pendamping khusus (GPK) yang bertugas mendampingi anak berkebutuhan khusus dalam proses belajar mengajar di kelas reguler. Ia menambahkan jumlah GPK di Padang pada tingkat TK/PAUD 55 orang, SD 125 orang, dan SMP 40 orang.

    "Namun saat ini jumlah GPK di Padang masih fluktuatif karena menggunakan tenaga honorer dan wali kelas masing-masing," ujar Gama di Padang, Rabu, 17 Februari 2021.

    Dia mengatakan siswa ABK perlu melakukan asesmen atau identifikasi sebelum memasuki sekolah inklusi sehingga pihak sekolah tahu apa saja layanan dan pendidikan yang dibutuhkan oleh mereka. Asesmen yang dilakukan oleh UPTD LDPI akan berguna bagi ABK di sekolah inklusi sehingga pelajaran yang diberikan sesuai dengan kemampuan siswa.

    "Misalnya siswa ABK ini berada di kelas 5 SD tapi berdasarkan hasil asesmen, kemampuannya masih di kelas tiga maka standar pelajarannya diturunkan namun nilainya akan disesuaikan dengan standar kelasnya sekarang," terangnya.

    Untuk mencegah terjadinya pengucilan ataupun perundungan di dalam kelas, LDPI selalu melakukan sosialisasi kepada sekolah-sekolah yang menjalani pendidikan inklusi.

    (AGA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id