UN Dibatalkan, FSGI: Jangan Ada Ujian Sekolah Daring

    Muhammad Syahrul Ramadhan - 24 Maret 2020 16:40 WIB
    UN Dibatalkan, FSGI: Jangan Ada Ujian Sekolah Daring
    Ilustrasi. Foto: MI/Arya Manggala
    Jakarta:  Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) berharap setelah dibatalkannya Ujian Nasional (UN) tahun 2020, pemerintah pusat tidak membuat model penilaian lain yang nantinya malah tambah menyusahkan siswa di tengah pandemik virus Korona.  Salah satunya Ujian Sekolah agar tidak dipaksakan untuk digelar baik luring maupun daring.

    Wakil Sekjen, FSGI Satriwan Salim menyampaikan, apabila nanti pemerintah membuat penilaian daring di tengah kondisi darurat pandemik virus Korona, ini akan mempersulit siswa, guru, dan orang tua.

    "Dari aspek persiapan teknis, SDM guru, dan tenaga teknis, serta kesiapan infrastruktur, mengingat Indonesia sangat luas dengan geografis yang unik. Apalagi di tengah kondisi bencana nasional seperti sekarang," kata Satriwan dalam siaran pers yang diterima Medcom.id, Jakarta, Selasa, 24 Maret 2020.

    Selain itu kata dia, dana UN dapat dialihkan untuk membantu penanganan penyebaran virus Korona yang lebih lebih bermanfaat. "Kita tahu anggaran pelaksanaan UNBK selama ini masih cukup besar, ratusan miliar. Dengan ditiadakannya UN 2020, alokasi anggarannya bisa dialihkan untuk membantu penanganan penyebaran covid-19," ungkapnya.

    Baca juga:  UN Setop, Ujian Sekolah Jalan Terus

    FSGI sendiri merespons positif langkah yang diambil pemerintah terkait pembatalan UN. Menurut Satriwan ini akan menjadi langkah strategis di waktu dan kondisi yang tepat, serta darurat.

    "Pilihan yang baik demi kesehatan, keselamatan para siswa dan guru, serta mencegah penyebaran covid-19," jelasnya.

    Apalagi memang saat UN kedudukannya sudah tidak relevan. UN untuk jenjang SMA tidak lagi digunakan untuk masuk perguruan tinggi negeri.  "Masuk PTN bukan dengan nilai hasil UN, melainkan melalui 'undangan' (nilai rapor) dan Tes UTBK (Ujian Tulis Berbasis Komputer)," jelasnya.

    Sedangkan untuk jenjang SD dan SMP, keberadaan UN juga sudah tak lagi relevan. Sebab masuk SMP dan SMA saat ini melalui mekanisme Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Zonasi.  Dalam PPDB zonasi juga hanya mengenal tiga jalur, yakni jarak rumah (zona), prestasi siswa (akademik dan nonakademik), serta perpindahan orang tua termasuk afirmasi.

    "Jadi walaupun ada jalur prestasi dalam PPDB, tetapi prestasi yang dimaksud tak hanya dilihat dari Nilai UN, melainkan bisa juga dilihat dari prestasi nilai rapor, nilai Ujian Sekolah, dan prestasi nonakademik lainnya seperti juara vokal, menggambar, mendongeng, debat, olahraga, seni musik, dan lainnya. Artinya nilai UN bukan lagi satu-satunya parameter prestasi siswa," bebernya.

    Baca juga:  Jokowi: UN 2020 Ditiadakan

    Sebelumnya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim membatalkan penyelenggaran Ujian Nasional (UN) 2020. Meski begitu, Nadiem menegaskan bahwa pembatalan tidak berlaku untuk pelaksanaan Ujian Sekolah.
     
    "Artinya, Ujian Sekolah masih bisa dilakukan oleh masing-masing sekolah. Tapi tidak diperkenankan untuk melakukan tes tatap muka yang mengumpulkan siswa di kelas," tegas Nadiem di Jakarta, Selasa, 24 Maret 2020.

    Mantan Bos Gojek ini menegaskan, jika memilih Ujian Sekolah daring, maka sekolah diminta memaksimalkan sistem digitalnya. Jika tidak siap dengan daring, maka nilai lima semester siswa bisa digunakan.



    (CEU)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id