Pandemi, Seniman Wayang Beber Manfaatkan Teknologi untuk Berkarya

    Muhammad Syahrul Ramadhan - 19 Juni 2020 07:33 WIB
    Pandemi, Seniman Wayang Beber Manfaatkan Teknologi untuk Berkarya
    Ilustrasi. Foto: Medcom/Muhammad Syahrul Ramadhan
    Jakarta: Pandemi virus covid-19 tidak lantas melunturkan semangat pelaku seni untuk tetap berkarya. Seperti yang dilakukan seniman tradisi wayang beber, yang menggelar pagelaran dengan teknologi Vicolming.

    Dosen Prodi Televisi dan Film Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta Ranang Agung Sugihartono menjelaskan kegiatan merupakan kombinasi teknologi Video Conference (Vicon) dan Live Streaming. Saat ini, kata dia, Vicon bisa dimanfaatkan untuk pertunjukan seni, tidak hanya kegiatan seminar, diskusi, dan lokakarya.

    "Ini dapat menjadi model pagelaran daring yang kolaboratif dan interaktif," kata Ranang dalam siaran pers, Kamis, 18 Juni 2020.

    Ia menyebut kegiatan ini didukung oleh unit pelaksana tugas (UPT) Teknologi, Informasi dan Komunikasi, serta UPT Audio Visual ISI Surakarta.

    Pagelaran perdana dengan menggunakan layanan daring ini akan digelar pada Sabtu, 20 Juni 2020, dan disiarkan langsung di kanal YouTube UPT Audio Visual. Ada empat komunitas wayang beber binaan Jurusan Pedalangan ISI Surakarta akan berkolaborasi mempergelarkan karya-karyanya.

    "Mereka adalah grup kesenian Wayang Beber 'Mahesa Sura' Paras Mojokerto, Wayang Beber 'Gremeng Tutur' Bengawan Solo, Museum Wayang Beber Sekartaji Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Wayang Beber Metropolitan (WBM) Jakarta," terangnya.

    Ranang menuturkan keempat komunitas tersebut berasal dari dari nama-nama kota yang mempunyai kata 'karta', yaitu Majakerta, Surakarta, Yogyakarta, dan Jakarta. Selain itu, keempat kota tersebut memiliki grup kesenian topeng yang jarang dimiliki kota-kota lainnya.

    Adapun lakon-lakon yang dibawakan merupakan lakon kreasi baru, di antaranya adalah Pusaka Tapa Brata dengan dalang mudanya Ki Adhim dan Agus, Sang Kala Nadah dalang Ki Jaka Rianto, CoRoNa Covid Rojah Rajeh Nagara 'Cinta Yang Mempesona' dalang Ki Indra Suroinggeno, dan Phobia Corona dalang Ki Samuel Santoso.

    Semua lakon mengangkat fenomena covid-19 yang sedang melanda masyarakat, dan diharapkan dapat menjadi tontonan dan tuntunan yang menarik bagi penonton.

    Baca: Sepi Pentas, Seniman Nyambi 'Nguli' Hingga Turun ke Sawah

    Masing-masing grup kesenian memiliki karakteristik yang berbeda. Grup Mahesa Sura khas dengan budaya Jawa Timur, grup 'Gremeng Tutur' dan Museum Wayang Beber Sekartaji yang khas dengan budaya Jawa Tengah yang dikenal halus, serta grup Wayang Beber Metropolitan dikenal yang sarat dengan budaya metropolis dan kekinian.

    "Pagelaran ini menyuguhkan gambaran sikap toleransi dan kebersamaan (guyub rukun) para seniman tradisi di tengah pandemi," ujarnya.

    Ia pun berharap gelaran perdana ini bisa menjadi solusi untuk pagelaran seni  yang  saat ini terdampak dengan sangat parah. Sebab, tidak ada permintaan pementasan seni sama sekali.

    "Karena pertunjukan pasti akan mengumpulkan massa, termasuk kesenian wayang beber. Untuk itu perlu dicarikan solusi agar dapat mengatasi kondisi ini," tandasnya.

    (AGA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id