comscore

Indonesia Minim Bahan Bacaan, Bukan Malas Membaca

Citra Larasati - 21 April 2021 12:37 WIB
Indonesia Minim Bahan Bacaan, Bukan Malas Membaca
Kepala Perpustakaan Nasional, Muhammad Syarif Bando. Foto: Perpusnas/humas
Jakarta:  Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas), Muhammad Syarif Bando membantah sejumlah hasil survei yang mengatakan bahwa budaya baca Indonesia masih rendah. Menurutnya, yang terjadi di Indonesia adalah minim bahan bacaan.

"Indonesia hanya kekurangan bahan bacaan, bukan malas membaca," kata Syarif, Rabu, 21 April 2021.

 



Nyatanya, kata Syarif, keberadaan Perahu Pustaka, Kuda Pustaka, Becak Pustaka, Angkot Pustaka, Mobil Pustaka, dan fasilitas bacaan lainnya di Indonesia selalu disambut antusias oleh warga.
Keadaan ini nampak terlihat, khususnya di beberapa wilayah perbatasan negara dimana bisa dipastikan di sana tidak ada bahan bacaan.

"Jika ada yang bilang ini era digital yang tak perlu buku, itu hanya berlaku untuk masyarakat di kota saja," ujarnya.

Penduduk Indonesia berdasarkan data BPS kurang lebih 270 juta jiwa, sementara jumlah bahan bacaan yang Perpusnas data di semua jenis perpustakaan umum (bukan di sekolah, perguruan tinggi, atau di rumah) hanya 22 juta.

Artinya, rasio buku dengan total penduduk belum mencapai satu buku per orang/tahun (0,098). Sedangkan, di benua Eropa dan Amerika rata-rata sanggup menghasilkan 20-30 buku per orang setiap tahun. Angka ini cukup menguatkan bahwa orang Indonesia bukan malas membaca, tapi ketersediaan buku yang kurang.

Baca juga:  Pembelajaran di Tengah Pandemi, Berinovasi Setangguh Kartini

Anak-anak tidak membaca buku karena berbagai faktor. Pertama, akses ke buku cukup sulit. Karena bila masyarakat disodori buku-buku yang sesuai, mereka akan sangat senang membaca.

“Faktor kedua yang menyebabkan minat baca Indonesia rendah, yakni bukunya jelek-jelek.  Jadi bukan salah orang Indonesianya yang malas membaca, tapi salahkan bukunya yang kebanyakan tidak menarik, bahkan sebagian merusak imajinasi anak,” katanya.

Menurutnya, akibat buku terbitan dalam negeri kurang menarik, anak-anak di banyak daerah menjadi gandrung dengan buku-buku terbitan/terjemahan dari luar negeri yang lebih memikat. Di sinilah letak kekhawatiran, karena anak-anak bisa terasing dari lingkungannya sendiri.

Banyak anak-anak di daerah yang lebih tahu soal hewan-hewan di belahan bumi lain ketimbang hewan-hewan di lingkungannya, dikarenakan mereka kekurangan suplai buku asli terbitan dalam negeri. “Anak-anak lebih fasih berbicara tentang beruang kutub atau dinosaurus, ketimbang tentang kuda Sumba karena banyak dijumpai di buku-buku terjemahan. Tapi kalau tentang kuda Sumba atau tentang elang Jawa, harusnya ditulis oleh orang Indonesia sendiri yang lebih menarik,” tambahnya.

Deputi Pembangunan Manusia, Masyarakat dan Kebudayaan Bappenas, Subandi Sardjoko juga memberi dukungan yang besar kepada Perpusnas untuk mengintegrasikan sisi hulu dan hilir literasi dalam konteks pemulihan ekonomi dan reformasi sosial ini. 

Menurutnya, rencana Pembangunan Jangka Mengah (RPJM) 2020-2024 sudah menempatkan literasi, kreativitas, dan inovasi sebagai pilar penting perwujudan masyarakat Indonesia yang maju dan berdaya saing.

“Secara khusus di masa pandemi ini, bagaimana peran literasi sangat penting, tidak hanya soal membaca, tapi juga mengaktualisasikan pengetahuan itu untuk meningkatkan kehidupan,” tutupnya.

(CEU)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id