Pakar Unpad: Cuaca Ekstrem dan Degradasi Lahan Picu Banjir di Jabar

    Citra Larasati - 21 Februari 2021 14:09 WIB
    Pakar Unpad: Cuaca Ekstrem dan Degradasi Lahan Picu Banjir di Jabar
    Ilustrasi. Medcom.id



    Jakarta:  Di balik keindahan alamnya, Jawa Barat dibayangi kerentanan akan bencana, salah satunya adalah bencana hidrometeorologi. Selain karena faktor cuaca dan iklim, degradasi hutan turut menjadi penyebab meningkatnya potensi bencana hidrometeorologi di Jabar.

    Pakar hidrologi dari Fakultas Teknologi Industri Pertanian Universitas Padjadjaran (Unpad) Prof. Ir. Chay Asdak, PhD, menjelaskan, berdasarkan data BMKG, curah hujan di wilayah Jawa Barat di awal 2021 terbilang ekstrem, lebih dari 100-150 milimeter/hari.




    “Melihat kondisi alamnya yang bergunung-gunung, maka hujan orografis banyak terjadi di Jabar,” kata Chay, dalam keterangan tertulis, Minggu, 21 Februari 2021.

    Beberapa pekan terakhir, sejumlah wilayah di utara Jawa Barat, termasuk DKI Jakarta, banyak dilanda banjir. Menurut Chay, jika dianalisis, banjir yang terjadi di wilayah pantai utara Jabar dipicu oleh dua faktor.

    Dua faktor tersebut adalah tingginya hujan yang terjadi di wilayah tengah dan pesisir utara, serta fenomena air laut yang pasang.  Melihat kontur kawasan utara yang lebih rendah, hujan di kawasan tengah yang notabene wilayah dataran tinggi akan menyebabkan air melimpah lebih banyak ke kawasan utara.

    Di saat bersamaan, kawasan utara juga ditekan fenomena air balik (back water) akibat pasang laut menyebabkan air menggenangi sejumlah wilayah di kawasan pesisir utara.  “Kalau kita lihat banjirnya kan diam saja, tidak mengalir seperti di kawasan tengah,” kata Chay.

    Baca juga:  Kampus Non PTNBH dan Swasta di Jawa Terima Dana Penelitian Terbesar

    Sementara dari sisi tata ruang, degradasi lahan dan hutan masif terjadi. Sejak 2005, penyimpangan tata ruang lahan terus meningkat.

    Salah satunya adalah di kawasan hulu Sungai Ciliwung. Masifnya peningkatan lahan kritis di kawasan tersebut turut berdampak pada terjadinya banjir di wilayah Jakarta.

    Chay menjelaskan, alih fungsi hutan dan lahan untuk kepentingan budidaya maupun komersial di Jawa Barat secara perlahan akan meningkatkan jumlah air yang tidak terserap ke dalam tanah. Akibatnya, banjir akan terus terjadi sepanjang musim.

    Selain itu, tidak ada aturan yang tegas dalam melarang masyarakat untuk membuka hutan demi kepentingan budidaya. “Ini yang menjadi tantangan besar, kita masih kesulitan dalam menindak penyimpangan lanskap oleh petani dibandingkan oleh industri,” ujarnya.

    (CEU)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id