Kemendikbud: Siswa Bunuh Diri Jenjang MTs, Wewenang Kemenag

    Ilham Pratama Putra - 30 Oktober 2020 20:34 WIB
    Kemendikbud: Siswa Bunuh Diri Jenjang MTs, Wewenang Kemenag
    Ilustrasi. Foto: MI/Adi Kristiadi
    Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) enggan mengomentari kasus siswa di Tarakan, Kalimantan Utara, yang bunuh diri diduga depresi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Kemendikbud menyebut yang berwenang mengomentari adalah Kementerian Agama (Kemenag), karena siswa tersebut jenjang Madrasah Tsanawiyah (MTs).

    "Siswa tersebut adalah siswa MTs, sebaiknya ditanyakan ke Kemenag sesuai kewenangan," Kepala Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat Kemendikbud Evy Mulyani kepada Medcom.id, Jumat, 30 Oktober 2020.

    Evy menyebut ada kesalahan laporan terkait jenjang pendidikan siswa yang bunuh diri tersebut. Setelah diperiksa Kemendikbud, siswa tersebut adalah pelajar MTs bukan SMP seperti yang diberitakan.

    Pernyataan Evy berbeda dengan laporan yang diterima Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). FSGI dan KPAI menyebut siswa Tarakan itu adalah pelajar SMP.

    "FSGI menyampaikan turut berduka cita atas wafatnya seorang  siswa di salah satu SMP di Tarakan. Korban 15 tahun ditemukan tewas diduga kuat pemicu korban bunuh diri adalah banyaknya tugas sekolah daring yang menumpuk yang belum dikerjakan korban sejak tahun ajaran baru," kata Sekjen FSGI, Heru Purnomo.

    Baca: Renggut Tiga Nyawa, Kemendikbud Didesak Kaji Ulang Model PJJ

    Sementara itu, KPAI memastikan jika anak tersebut bukan tak mampu mengerjakan tugas karena malas. Namun, tugas yang berlebihan membuat anak stres karena tidak dapat menyelesaikannya.

    "Ibu korban sempat berkomunikasi dengan pihak sekolah terkait beratnya penugasan sehingga anaknya mengalami kesulitan, namun pihak sekolah hanya bisa memberikan keringanan waktu pengumpulan, tapi tidak membantu kesulitan belajar yang dialami ananda," terang Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti dalam keterangannya, Jumat, 30 Oktober 2020.

    Catatan KPAI, siswa di Tarakan ini jadi 'korban' ketiga PJJ. Sebelumnya, seorang anak berusia delapan tahun di Lebak, Banten, meninggal karena dianiaya orang tuanya saat PJJ. Alasannya, orang tua stres karena tidak bisa mendampingi anaknya belajar di rumah dengan baik.
     
    Kemudian, seorang siswi berinisial MI (16) asal Gowa, Sulawesi Selatan melakukan bunuh diri diduga karena terbebani tugas PJJ. MI meminum racun karena diduga tak sanggup mengerjakan banyaknya tugas saat PJJ.

    (AGA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id