Sekolah di Padang Wajibkan Siswi Non-Muslim Berjilbab, Ini Kata Alissa Wahid

    Muhammad Syahrul Ramadhan - 24 Januari 2021 13:06 WIB
    Sekolah di Padang Wajibkan Siswi Non-Muslim Berjilbab, Ini Kata Alissa Wahid
    Alissa Wahid. Foto: MI/Adam Dwi
    Jakarta: Salah satu sekolah di Padang, Sumatra Barat, viral setelah mewajibkan siswi non-muslim mengenakan jilbab. Hal ini pun menjadi sorotan Alissa Wahid.

    Putri dari Presiden ke-4 Indonesia Abdurrahman Wahid atau Gus Dur ini menyampaikan beberapa pandangan melalui akun media sosial Twitter @AlissaWahid. Salah satunya adalah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mesti lebih kuat menegaskan bahwa ekosistem pendidikan milik negara tidak memaksakan jilbab untuk murid non-muslim dan muslimah.


    “Sebaliknya, juga tidak boleh melarang penggunaan jilbab bagi yang menginginkannya,” cuit Alissa.

    Alissa melanjutkan bahwa ketegasan dari Kemendikbud ini penting. Sebab tanpa adanya penegasan, para pengelola sekolah akan menggunakan tafsir yang berbeda-beda.

    “Dan bila pengelola sekolahnya meyakini mayoritarianisme sekaligus klaim kebenaran mutlak, maka akan ada potensi aturan pakaian yang melanggar hak konstitusi warga yang menjadi korban,” lanjutnya.

    Penegasan ini lanjutnya, juga harus dibarengi dengan upaya lainnya. Ada dua upaya yang bisa dilakukan Kemendikbud. Pertama  memperkuat perspektif konstitusi kepada insani-insan  pendidikan.

    “Sekaligus memperkuat perspektif peran sebagai ASN (Aparatur Sipil Negara)  yang harus selalu pakai kacamata wakil negara,” terangnya.

    Kedua adalah memperkuat kembali praktik beragama di Indonesia yang menghargai keberagaman keyakinan dan jauh dari sikap klaim kebenaran ajaran yang diyakininya.

    “Yang ini, kemdikbud kudu kerjasama dengan Kemenag (Kementerian Agama). Tanpa 2 hal ini, aturan tegas Kemendikbud akan sulit diinternalisasikan oleh tendik (tenaga kependidikan),” sambungnya.

    Dia juga mewanti-wanti, bahwa perkara mewajibkan penggunaan jilbab hanya urusan pakaian. Tetapi, di balik itu ada tren penabalan ideologi mayoritarianisme dan eksklusivisme beragama.

    “Dan ujungnya bukan hanya soal pakaian atau soal perempuan, tapi akan sampai ke soal kehidupan kebangsaan,” tegasnya.

    Kasus siswi yang diwajibkan memakai jilbab sempat viral di media sosial. Dalam tayangan video, orang tua murid siswi tersebut tampak beradu argumen dengan pihak sekolah.
     
    Ayah siswi tersebut menjelaskan jika keluarganya adalah non-muslim. Dia pun mempertanyakan alasan aturan itu yang diwajibkan kepada anaknya.
     
    "Bagaimana rasanya anak Bapak dipaksa ikut aturan yayasan. Kalau yayasan tidak apa, ini kan negeri," ujar pria yang diketahui berisial EH dalam video tersebut.
     
    Kasus ini pun telah ditangani Dinas Pendidikan Sumatra Barat. Kepala Dinas Pendidikan Sumatera Barat Adib Alfikri mengatakan sedang mengumpulkan data kasus tersebut.
     
    "Saya sedang mengumpulkan tim. Jadi sedang mengumpulkan data yang menjadi akar persoalan," ujarnya dikutip dari Media Indonesia, Sabtu 23 Januari 2021.

    (UWA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id