Guru Besar di Luar Negeri Ogah Disebut Profesor Saat Pensiun

    Citra Larasati - 27 Mei 2019 21:04 WIB
    Guru Besar di Luar Negeri <i>Ogah</i> Disebut Profesor Saat Pensiun
    Menristekdikti, Mohamad Nasir, Medcom.id/Citra Larasati
    Jakarta:  Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir, menegaskan lepasnya jabatan fungsional sebagai guru besar saat yang bersangkutan pensiun juga berlaku di luar negeri.  Jabatan guru besar merupakan jabatan fungsional di perguruan tinggi, bukan sebuah gelar yang digunakan untuk gagah-gagahan.  

    Nasir heran mengapa status guru besar politikus Partai Amanat Nasional (PAN), Amien Rais baru dibahas saat ini, bahkan dikait-kaitkan dengan dugaan kegiatan makar. "Padahal (aturan) ini sudah sejak lama, sejak keluarnya UU MD3 (UU tentang MPR, DPR, DPRD, dan DPD), antara 2005," tegas Nasir di sela-sela Dialog Kebangsaan dan Buka Bersama dengan kelompok Cipayung Plus di Gedung D Kemenristekdikti, Senayan, Jakarta, Senin, 27 Mei 2019.

    Lepasnya jabatan guru besar juga, kata Nasir, berlaku pada dirinya yang saat ini menjadi menteri dan sejumlah dosen lain yang memegang jabatan di kementeriannya. "Begitu juga saya, sekarang (sementara) bukan guru besar karena sedang menjadi menteri, status saya berarti lepas sementara. Kalau sudah menjadi menteri dan balik lagi ke kampus baru saya menjadi profesor lagi," terangnya.

    Nasir yang sebelumnya merupakan guru besar Undip (Universitas Diponegoro) ini mengatakan hal ini juga berlaku di luar negeri.  Bahkan, kata Nasir, para guru besar di luar negeri umumnya enggan dipanggil profesor jika sudah pensiun dan tidak lagi mengajar di kampus.

    "Kalau di luar negeri, saat ia berhenti jadi dosen, lalu dipanggil profesor (biasanya) tidak mau lagi.  Kalau di Indonesia beda karakter, begitu pensiun lalu ada orang enggak memanggil (dengan sebutan) profesor bisa-bisa nanti tidak diajak bicara, atau tidak diajak bukber (buka bersama)," canda Nasir.

    Nasir meminta masyarakat berhenti berpolemik atau bahkan mengaitkan lepasnya jabatan akademik guru besar Amien Rais dengan dugaan kasus makar.  Ia kembali menegaskan jabatan akademik guru besar Amien sudah lepas dengan sendirinya sejak lama, saat yang bersangkutan memutuskan untuk pensiun.

    "Pak Amien Rais itu sudah keluar dari dosen UGM (Universitas Gadjah Mada) sejak dia masuk parpol (partai politik)," kata Nasir.

    Baca:  Amien Rais Pensiun dari UGM Atas Permintaan Sendiri

    Nasir juga menjelaskan Undang-Undang Partai Politik maupun MD3 menyebut seseorang yang masuk dalam politik atau kepengurusan politik harus berhenti sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) maupun Pegawai Negeri Sipil (PNS).  Keputusan untuk terjun ke politik juga akan membuat siapa pun kehilangan jabatan fungsionalnya jika yang bersangkutan sebelumnya memangku jabatan di perguruan tinggi.

    "Kalau berhenti dari jabatan fungsional, seseorang juga akan berhenti otomatis. Maka UGM menghentikan sudah dalam jalur yang benar, karena dia sudah berhenti dari dosen. Kalau dia tetep ngajar itu hak pribadi, tapi status bukan dosen," tegas mantan rektor terpilih Undip Semarang ini.

    Guru besar atau profesor adalah jabatan fungsional atau puncak karier seorang dosen yang masih mengakar di lingkungan satuan perguruan tinggi. Guru besar bukan sebuah gelar, dan ia akan hilang dengan sendirinya saat yang bersangkutan pensiun atau tidak lagi mengajar di perguruan tinggi.



    (CEU)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE
    MORE

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id