PISA 2018, Kode Keras Asesmen Pendidikan Harus Berubah

    Muhammad Syahrul Ramadhan - 05 Desember 2019 16:07 WIB
    PISA 2018, Kode Keras Asesmen Pendidikan Harus Berubah
    Pegiat Pendidikan, Najelaa Shihab saat RDP dengan Komisi X DPR. Foto: Medcom.id/Muhammad Syahrul Ramadhan
    Jakarta:  Hasil studi Programme for International Student Assessment (PISA) 2018 menunjukkan posisi Indonesia melorot dibanding periode penilaian sebeleumnya.  Hasil PISA 2018 merupakan kode keras bagi mendesaknya perubahan sistem asesmen pendidikan di Tanah Air.

    Pegiat Pendidikan Najelaa Shihab menyebut harus ada perubahan signifikan pada sistem asesmen pendidikan. Sebab sistem asesmen yang digunakan Indonesia saat  ini tidak cukup akurat dalam memberikan gambaran utuh kondisi pendidikan nasional.

    "Selama ini asesmen kita fungsi utamanya menyalahkan anak, mengorbankan anak, membanding-bandingkan satu sekolah, satu daerah, yang sifatnya melabel saja. Tidak memberikan kapasitas yang benar-benar dibutuhkan," kata Najelaa dalam paparannya saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi X DPR RI di Gedung DPR/MPR, Jakarta, Kamis, 5 Desember 2019.

    Ditambah lagi saat ini asesmen pendidikan di Tanah Air tidak berbasis kompetensi, hanya bersifat menguji hafalan. "Padahal kita sepakat kompetensi, tapi kemudian yang kita ukur tujuan semua guru murid, akuisisi pada materi hafalan, konten semata," ujarnya.

    Untuk itu, pendiri Sekolah Cikal ini mengusulkan agar ke depannya asesmen dapat berbasis kompetensi. Seperti yang saat ini tengah dirintis Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yaitu AKSI (Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia).

    "Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia ini harapannya skalanya bisa diperbesar," ujarnya.

    Ia juga menyebut, asesmen dalam dunia pendidikan baik di skala sekolah maupun nasional yang selama ini diperankan oleh Ujian Nasional (UN) harus tetap ada. Tetapi tidak hanya dijadikan sebagai satu-satunya indikator kualitas pendidikan.

    "Apalagi sampai jadi satu-satunya tujuan di sistem pendidikan nasional ke depan. Berbahaya dampaknya, beberapa uraian kurikulum sempit, membuat konteks tidak berharga, akhirnya meningkatkan kecurangan," tegas Najelaa.

    Sebelumnya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) merilis pencapaian nilai Programme for International Student Assessment (PISA) 2018 yang mengujikan tiga kompetensi dasar, yakni membaca, matematika, dan sains siswa Indonesia. Hasil PISA ini dirilis bersama dengan 77 negara peserta survei PISA di 2018.
     
    Peringkat siswa Indonesia di tiga kompetensi tersebut mendudukkan Indonesia di posisi 72 dari 77 negara The Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). Skor ini mengalami penurunan dari periode penilaian sebelumnya, yakni peringkat 62 dari 70 negara di 2015.




    (CEU)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id