Orang Tua Kewalahan Dampingi Belajar di Rumah Sambil Bekerja

    Ilham Pratama Putra - 18 Maret 2020 17:42 WIB
    Orang Tua Kewalahan Dampingi Belajar di Rumah Sambil Bekerja
    Ilustrasi. Foto: MI/Sumaryanto Bronto
    Jakarta:  Sejumlah Dinas Pendidikan (Disdik) di beberapa daerah telah memberi instruksi agar siswa belajar di rumah. Siswa diminta belajar secara daring, termasuk mengerjakan tugas yang telah diberikan guru sekolahnya melalui berbagai media belajar online.

    Mengawasi anak untuk benar-benar serius mengikuti pembelajaran daring memiliki kesulitan tersendiri. Terlebih jika orang tua masih diharuskan bekerja di luar rumah.

    Salah satu orang tua siswa, Syofiani mengaku kewalahan mengawasi anaknya yang kini duduk di kelas 11 SMAN 3 Pekanbaru, Riau.  Dia tak membayangkan masih harus konsisten 11 hari ke depan mengawasi anaknya belajar sekaligus mencari nafkah.

    "Saya juga ingin memastikan anak benar-benar belajar saat di rumah. Jadi sepulang kerja, saya sempatkan memandu anak belajar minimal dua jam," ujar Syofiani kepada Medcom.id, Rabu 18 Maret 2020.

    Dalam waktu dua jam itu, dia mengecek kembali grup percakapan Whatsapp dengan wali kelas si anak. Melihat tugas apa yang diberikan guru di sekolah kepada anaknya.

    "Selanjutnya memastikan apakah tugas sudah dikerjakan apa belum. Saya cek ulang, kalau dia ada kesulitan saya bantu," sambung dia.

    Syofiani selalu berpesan pada anaknya, jika saat mengerjakan tugas mengalami kendala, bisa menghubungi teman yang mengerti maupun mengontak guru secara langsung. Sebab dia mengaku tak semua pembelajaran anak dia mengerti.

    Syofiani yang juga guru SMPN 31 Tenayan Raya, Pekanbaru itu mengakui, sistem ini memang sangat rumit. Sebab hal serupa juga dia hadapi pada di tempatnya bekerja.

    "Siswa saya sendiri, kebanyakan memang dari masyarakat ekonomi lemah. Tak semua beruntung seperti anak saya di rumah bisa dengan mudah berkoordinasi dengan gurunya di sekolah," lanjut dia.

    Di SMPN 31 sendiri kata dia, pemberian tugas masih dilakukan dengan cara mengumpulkan masing-masing ketua kelas. Sebelum sekolah benar-benar diliburkan dari aktivitas siswa, Jumat 13 Maret 2020 lalu pihaknya telah memberikan tugas kepada ketua kelas untuk disampaikan kepada siswa lainnya.

    "Yang punya handphone, bisa menerima tugas dari Whatsapp, sudah dibuat grup juga. Tapi bagi yang tidak, kami minta inisiatif siswa bertanya ke ketua kelas, dan ketua kelas juga menginfokan kepada teman-temannya," terang dia.

    Baca juga:  KPAI Minta Guru Tak Bebani Siswa dengan Tugas Berlebihan

    Berutung, lokasi tempat tinggal siswa tak berjauhan. Jadi komunikasi bisa lebih cepat. Pun, Syofiani bersama rekan lainnya akan bergantian jaga di sekolah.

    "Jadi siswa juga bisa bertanya ke sekolah untuk menanyakan tugas yang akan dia kerjakan," ungkap Syofiani.

    Pihak guru SMPN 31 memberikan kelonggaran kepada siswa untuk tak segera mengumpulkan tugas atau mengirim tugasnya lewat daring. Sebab pihaknya mengerti keterbatasan yang dimiliki siswa.

    "Yang penting dikerjakan dulu, satu per satu. Nanti saat kondisi membaik, dibawa saja ke sekolah tugas yang diberikan dalam 14 hari ini," pungkasnya.




    (CEU)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id