Pakar UGM Ungkap Dua Alasan Pentingnya Vaksinasi Covid-19

    Citra Larasati - 22 Januari 2021 12:47 WIB
    Pakar UGM Ungkap Dua Alasan Pentingnya Vaksinasi Covid-19
    Ilustrasi. Medcom.id


    Jakarta:  Dokter Spesialis Paru RSA UGM, dr. Astari Pranindya Sari, M.Sc., Sp.P. menjelaskan pentingnya vaksin dalam penanganan dan penanggulangan penyebaran virus covid-19.  Terdapat dua alasan kenapa vaksinasi covid-19 menjadi penting.

    Pertama, fakta bahwa kasus covid-19 di Indonesia terus meningkat dengan jumlah kasus positif tercatat lebih dari 900 ribu. Hal itu juga didukung dengan fakta-fakta lain, seperti persentase mortalitas dan positivity rate di Indonesia yang melebihi standar rata-rata di dunia.




    Kedua, kondisi kenaikan ini, baik kasus positif dan mortalitas, terjadi bukan tanpa obat. Meskipun obat bagi pasien positif sudah banyak di Indonesia, tetapi mortalitas pasien tetap saja naik.

    Dari hal tesebut, Astari menyebut pihaknya memutuskan untuk kembali ke prinsip awal, yakni ‘mencegah lebih baik daripada mengobat’. Dari pencegahan itulah posisi vaksin menjadi penting, tentunya hal itu diiringi dengan upaya pencegahan lain, seperti 3M dan 3T.

    “Kesemuanya berkesinambungan dan tidak bisa berdiri sendiri,” terang Astari, Jumat, 22 Januari 2021.

    Terkait adanya penolakan dan protes dari beberapa masyarakat terkait vaksin, Astari mengungkapkan keprihatinannya. Ia menyebut vaksin itu bisa eksis dan didistribusikan sampai sekarang setelah melalui perjalanannya panjang.

    Dari uji laboratorium dengan objek hewan, kemudian berlanjut ke uji klinis yang terbagi ke dalam tiga fase, hingga terakhir keluarlah persentase efikasi.  Astari menyebut efikasi pun ada syaratnya dan standar minimalnnya.

    Baca juga:  UI Kembangkan Empat Platform Vaksin Merah Putih

    Dari WHO, syarat efikasi untuk vaksin ini minimal 50 persen dan harus melewati minimal sampai uji klinis fase ketiga. Dan seperti yang kita tahu, uji klinis yang dipimpin oleh Prof. Kusnadi Rusmil di Bandung, mencapai angka 65,3 persen.

    Angka tersebut sudah melebihi tinggi dari syarat WHO, karena itu dapat perizinan EUA dari BPOM.  Dari proses tersebut, Astari berharap masyarakat paham bahwa ini berangkat dari usaha untuk pencegahan dan dilakukan dengan sangat serius.

    Mungkin ada masyarakat yang berpendapat bisa membangun antibodi dengan terkena virus dahulu. "Namun, ini dari segi kedokteran tidaklah etis karena sudah ada upaya pembuatan vaksin. Selain itu, prosesnya juga membahayakan. Oleh karenanya, kita berharap masyarakat dapat menerima dan mendukung vaksin ini,” ujarnya.

    (CEU)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id