Legislator: Masalah Pembelajaran Jarak Jauh Butuh Solusi Cepat

    Muhammad Syahrul Ramadhan - 27 Juli 2020 10:49 WIB
    Legislator: Masalah Pembelajaran Jarak Jauh Butuh Solusi Cepat
    Ketua Komisi X Syaiful Huda (kiri). Dokumentasi Pribadi
    Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan  (Kemendikbud) diminta memperkuat konsolidasi dengan Dinas Pendidikan (Disdik) di daerah untuk mencari solusi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Pasalnya, PJJ di tahun ajaran baru ini masih banyak masalah.

    "Banyak masalah di lapangan dari minimnya akses bagi peserta didik hingga belum jelasnya kurikulum di masa pandemi. Kondisi ini membutuhkan solusi cepat sehingga peran Disdik baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota begitu vital," kata Ketua Komisi X DPR Syaiful Huda, melalui siaran pers, Senin, 27 Juli 2020.

    Huda mengungkapkan banyak laporan dari kalau masyarakat PJJ di berbagai daerah memunculkan masalah baru. Misalnya, siswa berkumpul di warung kopi untuk mendapatkan Wifi gratis, bahkan, naik ke ketinggian untuk mendapatkan sinyal.

    Pola ini justru berbahaya. Sebab, kata dia, memunculkan kerumunan-kerumunan baru yang seharusnya dihindari selama pandemi virus korona (covid-19). Kemendikbud pun dinilai perlu segera memperkuat konsolidasi dengan Disdik untuk mencari solusi sesuai kondisi wilayah masing-masing. 

    "Dampak PJJ di satu daerah bisa berbeda dengan daerah lainnya. Di sini dibutuhkan peran dari masing-masing dinas pendidikan untuk mencari solusi sesuai dengan kasus yang muncul di daerah masing-masing," ungkapnya.

    Baca: KPAI Dorong Pemerintah Segera Menyederhanakan Kurikulum

    Ia pun medesak agar Kemendikbud segera mempublikasi Kurikulum Adapatif yang sudah dijanjikan. Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Usia Dini (PUAD) pernah menyatakan bahwa kurikulum adaptif telah disusun dan bakal diterbitkan sebelum tahun ajaran baru.  "Tapi kenyataannya hingga saat ini belum juga dirilis" katanya.

    Menurut Huda, Kurikulum 2013 yang saat ini digunakan sebagai acuan PJJ dinilai kurang tepat. Sebab, terlalu padat konten sehingga tak pas jika diterapkan di masa pandemi. 

    "Beban berat siswa, guru, dan orang tua siswa selama PJJ sebelum tahun ajaran baru telah banyak disampaikan. Dan desakan adanya kurikulum adapatif juga banyak disuarakan tapi sampai hari ini belum ada langkah nyata dari Kemendikbud," ujarnya. 

    Huda berharap berbagai persoalan PJJ segera ditindaklanjuti dan dicarikan solusi yang cepat. Huda mengaku salut dengan kreatifitas belajar di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB). Banyak guru di sana menggunakan walkie talkie untuk berkomunikasi dengan murid. 

    "Sehingga mereka tidak harus keluar uang untuk kuota. Harga alat ini juga murah sehingga bisa menjadi solusi jangka pendek kesulitan sarana dan prasarana di masa PJJ," ucap Huda.

    (AGA)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id