Subsidi Kuota Data Internet

    Kuota Umum Internet Cuma 5GB Dikritik, Ini Jawaban Kemendikbud

    Citra Larasati - 29 September 2020 13:11 WIB
    Kuota Umum Internet Cuma 5GB Dikritik, Ini Jawaban Kemendikbud
    Plt. Kepala Pusat Data dan Teknologi Informasi Kemendikbud, M. Hasan Chabibie. Foto: Zoom
    Jakarta:  Ketimpangan dalam pembagian komposisi antara kuota umum dan kuota belajar di subsidi kuota data internet yang diberikan Kemendikbud menuai keluhan dari kalangan guru.  Kemendikbud kemudian mengungkapkan alasan mengapa alokasi pulsa data untuk kuota umum hanya 5 GB (gigabyte) atau hanya sebagian kecil dari total subsidi kuota yang diterima.

    Plt. Kepala Pusat Data dan Teknologi Informasi Kemendikbud, M. Hasan Chabibie menegaskan, Kemendikbud memang sengaja membagi subsidi kuota data internet ke dalam dua bagian, yakni kuota umum dan belajar.  Sementara untuk kuota umum diberikan hanya sebesar 5GB.

    Hal itu, kata Hasan, semata-mata dilakukan untuk memastikan subsidi kuota benar-benar digunakan untuk belajar.  "Esensi dari program ini adalah bagaimana adik-adik kita bisa tetap belajar. Itu yang menjadi key factor-nya," terang Hasan dalam Konferensi Pers bertema "Kebijakan Bantuan Kuota Data Internet Tahun 2020" yang digelar secara daring, Selasa, 29 September 2020.

    Ia menjelaskan, bahwa kuota umum adalah kuota yang dapat digunakan untuk mengakses laman dan aplikai apapun, termasuk yang tidak ada hubungannya dengan pembelajaran secara langsung. "Misal mau main TikTok, mau nge-game juga bisa, main media sosial juga dengan menggunakan kuota umum," terang Hasan.

    Sementara kuota belajar adalah kuota yang hanya bisa digunakan untuk mengakses laman dan aplikasi pembelajaran.  "WhatsApp dan video conference itu masuk di ragam kuota belajar.  Karena dari survei atau dari data,  orang mengerjakan tugas, melakukan video conference, berinteraksi itu menempati proporsi tertinggi dalam proses BDR (Belajar di rumah) itu paling tinggi mengunakan WhatsApp, itu sudah kita akomodasi di kuota belajar," paparnya.

    Namun kata Hasan, banyak muncul pertanyaan mengapa YouTube tidak dimasukkan ke dalam kuota belajar sehingga mendapat ruang kuota yang lebih besar ketimbang di kuota umum yang hanya 5GB.  Hasan menjawab, Kemendikbud menyadari betul memang banyak sumber-sumber belajar yang ada di dalam konten YouTube.

    Baca juga:  FSGI: 85% Guru Keluhkan Subsidi Kuota Umum 5GB Tidak Cukup

    Namun ia juga mempertimbangkan, bahwa di dalam YouTube juga tidak sedikit yang berisi materi-materi hiburan (nonpembelajaran).  Sehingga akhirnya diputuskan untuk tetap berada di kuota umum dengan ruang akses terbatas, yakni sebesar maksimum 5 GB.

    "Kami sadar betul, banyak sekali sumber-sumber belajar yang ada di YouTube. Namun juga banyak entertaint dan hiburannya di sana. Kami tidak ingin kemudian pada saat orang mengakses YouTube ini menjadi salah sasaran," tegasnya.

    Sebelumnya, Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) melakukan survei tentang kebutuhan kuota dalam Pendidikan Jarak Jauh (PJJ). Survei dilakukan dalam rentang waktu 24-26 September 2020 terhadap 2.074 responden yang berasal dari guru, siswa dan, orang tua.
     
    Survei tersebut diisi oleh 13,8 persen responden yang merupakan guru, untuk siswa sebanyak 43,6 persen, dan orangtua 42,6 persen. Ketiganya diberikan pertanyaan apakah kuota umum dalam subsidi kuota yang hanya 5 GB (gigabyte) akan cukup untuk menunjang PJJ.
     
    Pada kalangan guru, hanya 15 persen guru yang menyatakan kuota umum 5GB tersebut cukup. Sisanya, sebanyak 85 persen guru menyatakan kuota umum tersebut tidak memenuhi kebutuhan PJJ.


    (CEU)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id