Mahasiswa Diajak Mengedukasi Masyarakat dalam Penguatan Moderasi Beragama

    Arga sumantri - 24 September 2021 15:39 WIB
    Mahasiswa Diajak Mengedukasi Masyarakat dalam Penguatan Moderasi Beragama
    Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid. Foto: Dok Kementerian Agama



    Jakarta: Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa'adi berharap mahasiswa Perguruan Ttinggi Keagamaan Islam (PTKI) bisa menjadi katalisator dan dinamisator dalam penguatan moderasi beragama. Lewat peran tersebut, mahasiswa diharapkan mampu mengedukasi masyarakat dalam penguatan moderasi beragama.

    "Publik perlu mendapat pencerahan mengenai pentingnya untuk memiliki pemahaman adil dan seimbang, demi merawat keharmonisan masyarakat, dan relasi harmonis antara agama dan negara dalam konteks keindonesiaan," ujar Zainut dalam keterangannya, Jumat, 24 Septembr 2021.

     



    Zainut mengatakan, pemahaman keagamaan yang adil dan seimbang seharusnya lebih mudah hadir pada mereka yang berada dalam atmosfer lingkungan akademis. Sebab, lingkungan ini mengutamakan dialog inklusif dan terukur dalam menghadapi perbedaan.

    Ia menyebut mahasiswa mesti mampu merawat nilai-nilai yang merupakan hakikat agama dan ilmu pengetahuan. Yaitu, nilai-nilai yang sesungguhnya untuk kemanusiaan, dan untuk menjawab permasalahan kemanusiaan.

    "Dalam konteks moderasi beragama, nilai-nilai kemanusiaan itu termanifestasi pada komitmen kebangsaan, toleran, beragama tanpa kekerasan, dan menghormati kearifan lokal," ungkapnya.

    Zainut melihat saat ini ada kesalahpahaman sebagian orang dalam memaknai tugas dakwah amar ma'ruf nahi munkar. Yakni, jika melaksanakan amar ma'ruf itu dengan cara yang lembut, bijak dan penuh kemadamaian, sementara jika melaksanakan nahyi munkar itu harus dengan cara-cara kekerasan. 

    "Hal tersebut tidak tepat dan tidak sesuai dengan akhlak Rasulullah," ungkapnya.

    Baca: Mahasiswa PTKI Diminta Siap Hadapi Society 5.0

    Zainut mengatakan, Rasulullah mengajarkan untuk melaksanakan amar ma'ruf nahyi munkar dengan penuh kebijakan. Contoh yang baik dan berdiskusi dengan cara yang lebih baik. 

    "Mengajak bukan mengejek, merangkul bukan memukul, ramah bukan marah-marah dan menasihati bukan memaki-maki. Sekarang ini banyak ahlul makky alias ahli maki-maki," terangnya.

    Ia pun menitipkan tiga pesan ini kepada mahasiswa agar tidak mudah terbawa arus ekstremisme dan intoleransi. Pertama, mahasiswa tidak boleh kehilangan kemampuan untuk berpikir kritis. Sebab, sikap kritis adalah salah satu ciri khas insan akademik. Sikap ini melahirkan cara pandang yang terbuka (open minded)

    Kedua, mahasiswa harus memiliki pemahaman tentang relatifitas kebenaran pandangan keagamaan. Sehingga tidak mudah terjebak pada klaim-klaim kebenaran yang cenderung mempersalahkan pandangan lain yang berbeda. 

    "Ketiga, carilah ilmu dari sumber yang otoritatif. Hal ini bisa dilihat dari sisi kualifikasi akademik dan sanad keilmuan. Mahasiswa agar tidak mencukupkan dirinya semata belajar dari Mbah Google," ujarnya.

    (AGA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id