Literasi Digital Penting, Tapi Minim Perhatian di Kurikulum Nasional

    Citra Larasati - 23 Februari 2021 15:30 WIB
    Literasi Digital Penting, Tapi Minim Perhatian di Kurikulum Nasional
    Ilustrasi. Medcom.id



    Jakarta:  Kemampuan literasi digital minim perhatian di dalam kurikulum nasional.  Pelajaran TIK memang diwajibkan dalam kurikulum 2013, terutama untuk tingkatan SMP dan SMA, namun konten pembelajarannya sebatas pada kemampuan menggunakan perangkat komputer dan aplikasi-aplikasi di dalamnya.

    Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Nadia Fairuza mengatakan, pembelajaran TIK di sekolah tidak menitikberatkan bagaimana cara memproses dan menggunakan informasi yang didapat dari berbagai sumber digital secara kritis. Di sisi lain, kurang meratanya akses internet di berbagai wilayah di Indonesia dan keragaman kondisi sosial ekonomi di berbagai daerah merupakan kendala struktural yang menghambat peningkatan literasi digital di Tanah Air.




    Saat ini, akses internet masih terkonsentrasi di Jawa. Selain itu, faktor keterjangkauan gawai dan kuota internet juga mempersulit akses bagi siswa yang berasal dari keluarga berpenghasilan rendah.  Rendahnya literasi menjadi faktor penting yang menyebabkan rentannya masyarakat terhadap hoaks dan misinformasi maupun sisi-sisi gelap internet lainnya, seperti fenomena cyberbullying, predator seksual, maupun penipuan online.

    Baca juga:  Besok, Sejumlah Anggota PGRI Disuntik Vaksin Covid-19

    Pemerintah perlu meneruskan upaya terstruktur untuk meningkatkan konektivitas antardaerah di Indonesia, untuk memperkecil kesenjangan antara satu daerah dengan daerah lainnya. "Hal ini akan membantu banyak hal, tidak hanya pendidikan, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat,” terang Nadia.

    Untuk meningkatkan literasi digital, perlu adanya usaha pemerintah dalam meningkatkan akses internet, terutama untuk daerah 3T Indonesia dan masyarakat menengah ke bawah. Di sisi lain, konten pembelajaran TIK dapat direvisi agar lebih relevan dengan tuntutan masa kini yang memerlukan adanya kemampuan mengevaluasi informasi yang didapat dari sumber-sumber digital.

    Selain itu, kebiasaan berpikir kritis harus dikembangkan sejak di bangku sekolah, masyarakat Indonesia dapat menjadi masyarakat digital yang bertanggung jawab.  Berdasarkan survei dari Kementerian Kominfo dan Katadata, indeks literasi digital nasional ada di angka 3,47 di skala 4.

    Survei ini memperlihatkan bahwa level literasi digital Indonesia masih berada di tingkat yang belum memuaskan. Tidak hanya kemampuan menggunakan perangkat digital, literasi digital adalah kemampuan memproses dan mengevaluasi informasi yang didapat dari sumber-sumber digital secara kritis dan bertanggung jawab.

    Literasi digital merupakan salah satu aspek dari payung besar kemampuan literasi. Jika dilihat dari sisi pendidikan, literasi anak Indonesia juga belum mencapai tingkat yang memuaskan.

    Berdasarkan skor literasi Programme for International Students Assessment (PISA), Indonesia berada di peringkat 71 dari 79 negara. Lebih lanjut, hanya 30 persen peserta didik yang mengikuti tes yang berada di maupun di atas level 2 dalam kemampuan membaca dibandingkan dengan 77 persen peserta didik dari negara-negara OECD.

    Selain itu, berdasarkan Survey of Adult Skills yang diselenggarakan tahun 2016, 70 persen orang dewasa Indonesia berada di maupun di bawah level 1 dalam literasi. Dua survei ini memperlihatkan bahwa mayoritas masyarakat Indonesia masih mengalami kesulitan dalam memahami informasi secara kritis yang terdapat di dalam teks yang panjang dan kompleks.

    (CEU)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id