Pustakawan Diminta Buat Peta Jalan Pengembangan Perpustakaan

    Achmad Zulfikar Fazli - 08 Juli 2020 19:43 WIB
    Pustakawan Diminta Buat Peta Jalan Pengembangan Perpustakaan
    Ketua Umum PP IPI, Syamsul Bahri. Dok. Istimewa
    Jakarta: Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) diminta membuat peta jalan pembinaan untuk pengembangan perpustakaan di Indonesia. Pustakawan dituntut melakukan aksi nyata dalam mengembangkan perpustakaan, bukan lagi sebatas kegiatan seremonial.

    "Saya menggarisbawahi (IPI harus evaluasi) niatan sejumlah program yang pernah disampaikan pengurus pusat saat pengukuhan, namun belum maksimal direalisasikan," ujar Kepala Perpustakaan Nasional, Muhammad Syarif Bando, di Jakarta, Rabu, 8 Juli 2020.

    Beberapa program tersebut di antaranya membentuk kepengurusan IPI hingga kabupaten/kota, membentuk tim penilai di lembaga atau mitra, mengambil bagian pendidikan dan latihan (diklat) asesor, dan rumusan standar perpustakaan yang ada.

    Jumlah pustakawan memang belum cukup ideal. Tetapi, kondisi ini jangan sampai menjadi sebuah paradoks.

    Sebagaimana yang diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan, dan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2018 tentang Serah Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam (SSKCKR), pustakawan harus terus mengembangkan diri. Terutama di era pandemi saat ini.

    Baca juga:  Pengamat Menilai Nadiem Tak Terbuka dalam Membuat Kebijakan

    Peran perpustakaan dinilai masih tertinggal dalam menyajikan informasi atau data.  "Dunia berubah dengan informasi dan simbol informasi salah satunya adalah perpustakaan. Siapa yang tidak cinta dengan perpustakaan. Saya ingin pustakawan bisa eksis berselancar memberikan informasi dengan menggunakan teknologi," ujar Syarif.

    Ketua Umum PP IPI, Syamsul Bahri mengatakan, pihaknya terus bekerja keras meningkatkan kompetensi dan profesionalisme pustakawan Indonesia demi memajukan perpustakaan.

    IPI telah merumuskan tujuan besar yang tidak sekadar meningkatkan profesionalisme pustakawan, tetapi juga mengembangkan ilmu perpustakaan, dokumentasi dan informasi. Selain itu mengabdikan, mengamalkan tenaga, keahlian untuk bangsa dan negara.

    "Meski di tengah pandemi covid-19, pengembangan profesi pustakawan tetap menjadi fokus perhatian organisasi. Kami (IPI) sudah merencanakan kegiatan webinar berseri selama 16 pekan ke depan dengan topik-topik yang sesuai perkembangan perpustakaan atau berupa best practices, misalnya tentang literasi," beber Syamsul.

    Dia mengatakan setidaknya ada tiga prinsip layanan perpustakaan di masa pandemi, yakni bagaimana membuat perpustakaan semakin dicari, mengubah situasi pandemi menjadi benefit dan profit, dan bagaimana menjadikan peran pustakawan semakin bersemi di masa pandemi.

    Syamsul setuju paradigma perpustakaan sudah berubah. Perpustakaan sudah wajib memakai sentuhan teknologi dan pendekatan humanistik sehingga manfaat dari keberadaan perpustakaan terasa di masyarakat.

    IPI, lanjut dia, akan mendukung program transformasi perpustakaan di era digital. Karena perpustakaan harus beradaptasi dengan perkembangan zaman. Mengingat perpustakaan berperan penting sebagai sumber ilmu pengetahuan.

    Menurut dia, kolaborasi peran sangat dibutuhkan dalam mendukung terwujudnya transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial lewat ketersediaan koleksi, kemudahan akses bahan pustaka, dan kesempatan memperoleh informasi bermutu.

    "Perpustakaan harus menjadi ruang sinergitas kegiatan kemasyarakatan agar terlihat manfaat dan dampaknya di masyarakat, sehingga akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan," ujar dia

    (AZF)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id