PPI Inggris Prihatin Atas Kasus Reynhard Sinaga

    Antara - 08 Januari 2020 15:28 WIB
    PPI Inggris Prihatin Atas Kasus Reynhard Sinaga
    Reynhard Sinaga. Foto: The Independent/Facebook
    London:  Ketua Umum Persatuan Pelajar Indonesia di Inggris (PPI UK), Stella C Noe menyatakan keprihatinannya atas kasus yang dihadapi Reynhard Sinaga.  Reynhard merupakan salah seorang mahasiswa Indonesia yang tengah menuntut ilmu di Manchester, Inggris.

    Reynhard Sinaga oleh Pengadilan Manchester dijatuhi hukuman seumur hidup setelah dinyatakan bersalah usai melakukan perkosaan dan serangan seksual terhadap 48 korban pria dalam 159 kasus. Tindak kejahatan ini dilakukan selama rentang waktu sekitar dua setengah tahun.

    “Saya Ikut merasakan kepedihan yang dialami para korban yang begitu banyak,” ujar Stella C Nau, kepada Antara London, dikutip dari Antara, Rabu, 8 Januari 2020.

    Kasus Reynhard Sinaga menjadi perhatian publik di Inggris. Media massa di Inggris seperti Daily Mail menurunkan berita tentang Reynhard Sinaga di halaman muka, begitupun dengan media lainnya dalam dua hari terakhir ini.

    "How the world's worst rapist Reynhard Sinaga - who attacked 195 men - came to UK from a 'very rich' family in Indonesia while his property tycoon father who didn't know he was gay tried to marry him to a woman," tulis Daily Mail di halaman mukanya, pada Selasa lengkap dengan photo Reynhard Sinaga yang diapit oleh kedua orang tuanya.

    Stella yang tengah menuntut ilmu di Goldsmiths, University of London dengan mengambil studi Komunikasi Politik ini mengatakan, kasus Reynhard memang sulit. Tapi sebagai pelajar yang juga tengah menuntut ilmu di Inggris, Stella mengatakan bahwa ia pun sangat menghormati proses hukum keputusan pengadilan Inggris.

    Ia juga menghargai bimbingan yang diberikan KBRI London terhadap hak-hak Reynhard Sinaga sebagai warga negara Indonesia.  "Semua upaya sudah dilakukan,” ujarnya.

    Stella berharap para pelajar dan mahasiswa tidak merasa takut dan tetap kuliah dan belajar serta melakukan aktivitas di kampus seperti biasa. Apalagi kasus yang menimpa Reynhard sudah cukup panjang prosesnya, yaitu sejak 2017.

    Dikatakannya, dalam kepengurusan PPI UK saat ini 2019-2020, pihaknya tidak mengenal sosok Reynhard Sinaga. Pengurus sebelumnya juga tidak ada yang mengenal dan tidak berkomunikasi dengan Reynhard, tambahnya.

    Sepertinya Reynhard kurang bergaul dengan teman-teman sesama pelajar Indonesia yang ada di Manchester maupun di Leeds, Inggris.  Menurutnya, selama ini tidak ada pelajar Indonesia mendapat perlakuan yang berbeda meskipun kasus Reynhard mendapat perhatian khusus media dan masyarakat lokal di Manchester.

    Stella mengimbau para pelajar Indonesia yang ada di Inggris tetap melakukan kegiatan dan belajar seperti biasa.  Ia juga mengajak mahasiswa Indonesia untuk melakukan hal-hal yang positif dan bergabung dalam berbagai kegiatan yang dilakukan PPI UK atau di kampus masing-masing.

    Sementara itu Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI London, Aminudin Aziz kepada Antara London mengatakan, Reynhard Sinaga pernah mendaftar ketika hendak kuliah S2 pada 2014. Setelah itu tidak ada lagi data tentangnya.

    Menurut Aminudin Aziz, Reynhard Sinaga tidak pernah aktif di acara bersama PPI di cabang seperti di Leeds atau Manchester ataupun di PPI UK.

    Kedutaan besar Indonesia (KBRI) di London menyatakan pihaknya menghormati keputusan Pengadilan Inggris di Machester atas Reynhard dalam kasus pemerkosaan itu.

    "Sejak KBRI London diberitahu oleh pihak kepolisian Juni 2017 lalu, kita terus mengikuti kasusnya dan memastikan Reynhard Sinaga, mendapat perlindungan hukum sesuai dengan hukum yang berlaku di UK," ujar Minister Counsellor KBRI London, Thomas Ardian Siregar.

    Reynhard datang ke Inggris dengan visa mahasiswa pada 2007 dan memperoleh dua gelar magister di Manchester dan tengah mengambil gelar doktor dari Universitas Leeds saat ditangkap pada 2017.

    Ia dihukum seumur hidup oleh Pengadilan Manchester atas tindak perkosaan dan serangan seksual terhadap 48 korban pria dalam 159 kasus.  Tindak kejahatan ini dilakukan selama rentang waktu sekitar 2,5 tahun.

    Hakim mengatakan, Reynhard harus menjalani 30 tahun hukuman penjara sebelum boleh mengajukan pengampunan.

    Menurut BBC London, persidangan berlangsung dalam empat tahap, mulai Juni 2018 dan tiga tahap pada 2019.  Namun Pengadilan Manchester baru mengizinkan pemberitaan setelah hukuman dijatuhkan untuk sidang tahap tiga dan empat pada Senin, 6 Januari 2020.



    (CEU)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id