Rektor UI Tunggu Terobosan Nadiem untuk Pendidikan Tinggi

    Intan Yunelia - 13 Januari 2020 18:01 WIB
    Rektor UI Tunggu Terobosan Nadiem untuk Pendidikan Tinggi
    Rektor UI, Ari Kuncoro. Foto: UI/Humas
    Jakarta: Rektor Universitas Indonesia (UI), Ari Kuncoro menunggu gebrakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Anwar Makarim untuk pendidikan tinggi.  Khususnya terobosan program pendidikan tinggi yang memanfaatkan teknologi informasi sesuai dengan latar belakang Nadiem. 

    "Fokusnya bagaimana memberikan pembelajaran yang tidak hanya secara kontekstual, lewat internet dan lainnya itu memang memerlukan terobosan-terobosan baru," kata Ari saat ditemui Medcom.id, usai menghadiri Forum Koordinasi BPK dengan Pengawas Internal di Perguruan Tinggi Negeri (PTN), di Kantor Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Jalan Jenderal Gatot Subroto, Jakarta, Senin, 13 Januari 2020.

    Di sektor pendidikan tinggi, Ari menyarankan agar spesialisasi keilmuan tidak terburu-buru diterapkan di jenjang strata 1 (S1).  Jenjang S1, kata Ari, seharusnya diperkenalkan dengan banyak disiplin ilmu. 

    "Makanya S1 harus dikenalkan dengan disiplin lain.  Nanti kalau S2 dan S3 baru boleh (spesialisasi)," ujar Ari.

    Begitu juga dengan link and match antara perguruan tinggi dengan industri agar mengoptimalkan skema triple helix.  Dengan begitu, lulusan perguruan tinggi dan politeknik bisa lebih terintegrasi dengan industri. 

    "Jadi arahnya akan ke sana semua. Jadi kita melakukan sesuatu yang harusnya 10 tahun lalu sudah mulai dilakukan. Malaysia sudah melakukannya," papar Ari.

    Mantan Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI ini menyebutkan, terobosan-terobosan inilah yang harus segera dilakukan Nadiem.  Sehingga peringkat ketertinggalan perguruan tinggi Indonesia saat ini bisa dikejar.

    "Sekarang ini sedang disiapkan peraturan-peraturan baru yang saya rasa meningkatkan fleksibilitas.  Kalau kami dari perguruan tinggi ya akan menyampaikan fleksibilitas bagaimana kami mengelola perguruan tinggi," ujarnya.

    Seperti diketahui, Jokowi pada 23 Oktober 2019 lalu secara resmi mengumumkan formasi Kabinet Maju di Istana Merdeka.  Jokowi di periode kedua ini tidak mencanangkan secara khusus target dan program 100 hari kerjanya, karena menurut Presiden semua program hanya tinggal melanjutkan dari periode pertamanya.
     
    Sementara di bidang pendidikan, Nadiem Makarin juga tidak secara spesifik menyampaikan program 100 hari kerjanya.  Sebaliknya, Nadiem justru meminta waktu di 100 hari pertamanya untuk belajar persoalan pendidikan.



    (CEU)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id