Mahfud MD: Mahasiswa Instrumen Utama Bela Negara

    Citra Larasati - 20 Oktober 2019 05:02 WIB
    Mahfud MD: Mahasiswa Instrumen Utama Bela Negara
    Caption: Mahfud MD saat menyampaikan Kuliah Umum bertema “Bela Negara dan Penguatan Nilai Pancasila” di President University, Foto: Dok. President University
    Cikarang: Menjaga kemerdekaan Indonesia sebagai negara yang berdaulat serta mensyukuri kemerdekaan merupakan jembatan menuju visi Indonesia Emas pada 2045. Peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) unggul yang berkarakter nasionalis dan adaptif terhadap perkembangan diperlukan untuk dapat menunjang tercapainya visi tersebut.

    Hal ini dikemukakan oleh Anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila, Mohammad Mahfud M.D dalam kuliah umum bertemakan “Bela Negara dan Penguatan Nilai Pancasila” yang diselenggarakan oleh Program Studi dan Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional President University di President University Convention Center, Cikarang, Jawa Barat.

    Selain merupakan bagian dari rangkaian  peringatan HUT ke-10 Prodi Hubungan Internasional President University, kuliah umum ini diagendakan sebagai kegiatan tahunan President University di awal masa perkuliahan.

    Mahfud menegaskan bahwa kemerdekaan yang dicapai saat ini ada, karena Indonesia bersatu. “Indonesia adalah satu-satunya negara di dunia yang merdeka karena masyarakatnya bersatu mengusir penjajah,” ungkap Mahfud mengutip pernyataan Chairman and Founder PT. Jababeka dan President University S.D. Darmono dalam salah satu bukunya.

    Menurut Mahfud, langkah “progressive revolutioner” para pemuda untuk mempercepat proklamasi adalah salah satu cara untuk mencegah sistem pemberian kemerdekaan dari Jepang kepada Indonesia. Oleh karena itu, tugas pemuda saat ini adalah menjaga kemerdekaan dengan menumbuhkan sikap nasionalisme dan Bhinneka Tunggal Ika melalui bela negara berdasarkan Pancasila yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur dengan geopolitiknya.

    “Seringkali bentuk bela negara hanya diartikan secara konvensional dan dikaitkan dengan TNI dan Polri. Padahal menurut UUD 1945 bela negara mencakup Sistem Pertahanan Keamanan Rakyat Semesta (Sishankamrata) di mana semua warga negara merupakan instrumen dalam membela negara, utamanya mahasiswa yang notabenenya adalah agen perubahan,” lanjut Mahfud.

    Sebagai penutup, Mahfud menekankan peran universitas untuk mencetak sumber daya unggul, menguasai IPTEK, dan siap menghadapi revolusi industri dengan menumbuhkan semangat kehidupan bela negara.

    Dalam kesempatan yang sama, Kepala Program Studi Hubungan Internasional Muhammad A.S. Hikam mengatakan, tema yang diangkat memainkan peranan penting dalam mengokohkan kehidupan dan semangat bela negara, utamanya terhadap mahasiswa dalam menyelesaikan persoalan yang ada di Indonesia saat ini.

    Kuliah umum ini dihadiri oleh Ketua Yayasan Pendidikan Universitas Presiden Budi Susilo Soepandji, Sekretaris Yayasan Pendidikan Universitas Presiden Chairy, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (2005-2009) Erman Soeparno, Rektor President University Jony Oktavian Haryanto, serta jajaran sivitas akademika President University.

    Acara dibuka dengan sambutan dari Kepala Program Studi Hubungan Internasional Drs. Muhammad A.S. Hikam, M.A., Ph.D yang juga menjabat Menteri Negara Riset dan Teknologi pada Kabinet Persatuan Nasional (1999-2001).




    (ADN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE
    MORE

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id