UKDW Gelar 'Interreligious Dialogue'

    Muhammad Syahrul Ramadhan - 09 Agustus 2019 18:42 WIB
    UKDW Gelar 'Interreligious Dialogue'
    Interreligious Dialogue dalam Konteks Indonesia: Tantangan dan Masa Depannya. Foto/Dok.UKDW.
    Yogyakarta:  Pusat Studi Agama-agama (PSAA) Fakultas Teologi Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta gelar “Interreligious Dialogue dalam Konteks Indonesia: Tantangan dan Masa Depannya”. Dialog ini dilatarbelakangi keprihatinan masih maraknya isu intoleransi di Indonesia.

    “Melalui kegiatan ini para tokoh agama dapat membagikan pengalaman dan menganalisa isu-isu yang berkembang di masyarakat dalam konteks hubungan dialog antar umat beragama," kata Ketua PSAA UKDW, Djoko Prasetyo Adi Wibowo di Yogyakarta, Jumat, 9 Agustus 2019.

    Djoko Prasetyo menuturkan, saling belajar dari keunikan masing-masing merupakan kesadaran yang patut disampaikan dalam perjumpaan lintas agama. Menurutnya hal yang berbeda dalam sebuah kemajemukan agama tidak lagi perlu dihindari. apalagi dianggap tabu untuk dibicarakan.

    "Justru harus didiskusikan sehingga pemeluknya dapat memahami untuk memperkaya imannya sendiri.  Akhirnya terbentuklah pribadi-pribadi yang memiliki integritas utuh, pluralitas menjadi sebuah kesadaran yang dihidupi, tidak hanya sekadar diketahui,” tuturnya.

    Djoko menyebut, kegiatan yang diselenggarakan di Yogyakarta menjadi tantangan bagi kota Yogyakarta yang dikenal sebagai sebagai kota pelajar, kota budaya, dan city of tolerance, juga tantangan bagi bangsa Indonesia. "Bagaimana mengelola keberagaman di ranah politik, sosial, dan keagamaan,” jelasnya.

    Dalam seminar juga dibahas mengenai kondisi dialog agama-agama di Indonesia saat ini di masyarakat. Agama tidak dapat lagi disebut sebagai penyebab konflik, karena seringkali konflik justru berasal dari faktor lain di luar agama itu sendiri. Misalnya ekonomi, kecurigaan penguasaan aset/sumber daya, maupun karena kesalahpahaman terhadap berbagai kepentingan yang berbeda.

    "Agama merupakan hal yang menarik dikaitkan karena kemampuannya bisa menggerakkan kesadaran kesatuan identitas dan panggilan menjadi militan dalam menegakkan perjuangan yang mengatasnamakannya," tuturnya.

    Baca:  UKDW Terima Kunjungan Marburg University Jerman

    Agama, kata Djoko, tidak pernah muncul sebagai motif awal dalam konflik masyarakat, tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa agama sering dikaitkan dengan kepentingan-kepentingan yang berbeda di masyarakat.  Oleh karena itu kaum beragama perlu kritis terhadap fenomena ini dan menyuarakan suara atau nilai-nilai terdalam keagamaannya tentang cinta, keadilan, damai, serta mewujudkan kerja sama bagi peningkatan kesejahteraan bersama.

    Tujuan dari kegiatan ini adalah mewujudkan tridarma Perguruan Tinggi bagi kepentingan masyarakat luas.  Tidak sekadar berdiskusi tentang hal-hal abstrak teologis tentang dialog agama-agama saja, tetapi ingin mendaratkannya pada sebuah komunikasi otentik di masyarakat. Guna mewujudkan perdamaian Indonesia yang beragam suku dan agamanya sehingga dapat diperjuangkan bersama keadilan dan kesejahteraan berdasarkan Pancasila.

    Beragama tidak boleh menjadi alasan pertikaian atau konflik, apalagi dengan kekerasan. Karena pada dasarnya setiap agama mengajarkan cinta kasih.  "Sehingga komunikasi antarumat beragama seharusnya juga dilakukan dalam kesadaran dan karakter cinta kasih itu. Kesadaran ini harus diawali oleh para pemimpin agama," tandasnya.



    (CEU)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE
    MORE

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id