Perlu Ada Mekanisme Pelaporan Kekerasan Seksual dan Perundungan di Kampus

    Citra Larasati - 28 November 2021 15:11 WIB
    Perlu Ada Mekanisme Pelaporan Kekerasan Seksual dan Perundungan di Kampus
    Ilustrasi/Medcom.id



    Jakarta:  Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran (Unpad), Aquarini Priyatna berharap ada mekanisme pelaporan yang baik di lingkungan kampus yang dapat menjamin semua pihak dapat terlindungi dari tindak kekerasan seksual dan perundungan. Untuk menciptakan kampus aman, perlu ada upaya bersama dari setiap elemen kampus.

    "Sejumlah kendala acap ditemui dalam pelaporan, seperti rumitnya prosedur pelaporan hingga prosedur pelaporan yang tidak berpihak pada korban," kata Aquarini dalam webinar “Mari Kita Cegah Tindakan Kekerasan Seksual dan Perundungan (Bullying) di lingkungan Kampus”, dikutip dari laman Unpad, Minggu, 28 November 2021.

     



    Ia menambahkan, semua pihak harus berkomitmen melakukan pencegahan dan tidak diam jika disinyalir ada tindak kekerasan seksual dan perundungan.  “Ini menjadi hak dan kewajiban semua orang dalam kampus untuk memastikan bahwa kampus itu aman dari segala macam perundungan dan kekerasan,” ujar  Aquarini.

    Sementara itu Kepala Pusat Riset Gender dan Anak Universitas Padjadjaran, Budiawati Supangkat mengatakan, kekerasan seksual merupakan kejahatan yang dapat terjadi di mana saja, baik di lingkup publik maupun privat.  Lingkungan kampus sering dipersepsikan sebagai ruang aman, sehingga kekerasan yang terjadi kerap tersembunyi dan tidak terlaporkan.

    Pelakunya pun tidak dihukum setimpal. Akibatnya, korban mengalami trauma seumur hidup.  Jika tidak ada mekanisme atau peraturan mengenai penanganan kekerasan seksual, Budiawati menilai hal tersebut akan membawa kesengsaraan dan ketidakadilan bagi korban.

    Sebelum lahirnya Permendikbud 30 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan Kampus, Unpad sendiri sudah lebih dahulu mengeluarkan Peraturan Rektor no. 16 tahun 2020 tentang Pencegahan dan Penanganan Pelecehan Seksual di Lingkungan Unpad.

    “Kita sebetulnya tidak tertinggal. Kita sudah menyiapkan amunisi untuk pencegahan terjadinya kekerasan seksual,” kata Budiawati.

    Ia pun berharap, dengan adanya Permendikbud tersebut, penyempurnaan peraturan dan mekanisme di lingkungan Unpad dapat dilakukan.  Selain itu, sosialisasi mengenai responsif gender, perundungan, dan kekerasan seksual dapat terus dilakukan dengan sasaran mahasiswa, tenaga kependidikan, dosen, dan berbagai pihak terkait.

    Ini dilakukan mengingat tindak kejahatan tersebut dapat terjadi pada siapa saja.  “Yang rentan itu bukan hanya mahasiswa tetapi semua lini, bisa tenaga kependidikan, bisa juga para dosen, baik laki-laki maupun perempuan, maupun pihak-pihak terkait dengan Unpad,” ujarnya.

    Jangan Diam

    Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unpad Binahayati Rusyidi mengatakan, sikap diam atau ketidakberpihakan seseorang dalam merespons kekerasan seksual sebenarnya menunjukkan bahwa ia menoleransi hal tersebut.  Untuk itu, kebersamaan diperlukan sebagai bentuk keadilan bagi korban sekaligus mencegah berkembangnya toleransi terhadap kekerasan seksual.

    “Jadi saya pikir mengubah cara pandang kita mengenai kekerasan seksual itu merupakan suatu langkah awal yang mungkin biisa difasilitasi dengan adanya berbagai aturan dan implementasi kebijakan di level kampus dan juga kolaborasi dari kita semua. Jadi kita tidak bisa hanya menyerahkan ini kepada universitas tetapi juga semua tenaga kependidikan, dosen, mahasiswa, kita harus sama-sama bekerja untuk merespons masalah ini,” ujar Binahayati.

    Hal senada juga disampaikan Dosen Fakultas Hukum Unpad, Widati Wulandari.  Ia berpesan untuk tidak berdiam diri jika mengetahui ada tindak kekerasan.

    “Komitmennya dari diri sendiri dulu saja. Kalau kita bukan korban, kita sebagai bystander tolong bantu dengan cara tidak diam,” tutup Widati.

    (CEU)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id