Lima Bidang Industri Alami Kesenjangan Pasokan SDM Dikti

    Citra Larasati - 15 April 2019 19:04 WIB
    Lima Bidang Industri Alami Kesenjangan Pasokan SDM Dikti
    Dirjen Sumber Daya Iptek dan Dikti, Ali Ghufron Mukti saat membuka Seminar Internasional 2019 tentang SDM Dikti Kemaritiman, SDID/Humas.
    Jakarta:  Direktorat Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti (SDID) menemukan adanya kesenjangan antara pasokan Sumber Daya Manusia (SDM) di pendidikan tinggi dengan kebutuhan industri.  Temuan tersebut terdeteksi setelah SDID merampungkan Rencana Induk Pengembangan SDID di lima sektor.

    Dirjen SDID, Kemenristekdikti, Ali Ghufron Mukti mengatakan, selama empat tahun pihaknya telah merampungkan Rencana Induk Pengembangan Sumber Daya Manusia Iptek dan Dikti di lima sektor.  Kelima sektor tersebut meliputi pembangunan infrastruktur, pendidikan, kesehatan, pertanian dan pangan, serta kemaritiman. 

    "Dari rencana induk tersebut, SDID menemukan adanya kesenjangan antara pasokan Sumber Daya Manusia (SDM) di pendidikan tinggi dengan kebutuhan dalam industri," kata Ghufron saat membuka Seminar Internasional tentang Relevansi Pengembangan SDM Iptek dan Dikti Terhadap Pembangunan Sektor Kemaritiman, di Jakarta, Senin, 15 April 2019.

    Mantan wakil menteri kesehatan ini menjabarkan, pada sektor Infrastruktur misalnya, kesenjangan terjadi antara penyediaan sarjana teknik di 15 bidang Ilmu yang terbatas.  "Antara 17.550 di tahun 2016 hingga 27.087 tahun 2024, dengan kebutuhan yang besar untuk pembangunan infrastruktur antara 26.340 tahun 2016 hingga 182.658 tahun 2024," sebut Ghufron.

    Baca:  Diaspora Fasilitasi Peningkatan Kompetensi Dosen Bidang Kesehatan

    Untuk mengatasinya, kata Plt Rektor Universitas Trisakti ini, perlu mengerahkan sarjana teknik yang selama ini tidak berkarier di keinsinyuran.  "Sekaligus mendorong agar prodi teknik di perguruan tinggi serta diploma dapat lebih mengundang minat kaum muda sekaligus meningkatkan kapasitas," terang Ghufron.

    Selanjutnya pada sektor kesehatan sebaran populasi dokter yang tidak merata. Sedangkan jumlah bidan per 100.000 penduduk adalah 163 dari target nasional 108 tahun 2016. Untuk rasio perawat rasio per provinsi adalah 1:588 penduduk per 100.000 penduduk dengan target nasional 166,8 orang. 

    "Maka dari itu, kami mengusulkan perlu adanya redistribusi lulusan dokter spesialis dari provinsi yang sudah surplus.  Di samping itu, diperlukan pula akreditasi pendidikan dokter untuk mengisi kekurangan dokter," ujarnya.

    Sementara pada sektor pendidikan, prediksi kebutuhan guru SMA dalam kurun waktu 2017-2024 meningkat dari 6.180 menjadi 11.814.  Untuk guru SMK dari 8.235 menjadi 13.674, guru SMP 13.200 menjadi 26.200, sedangkan untuk guru SD kebutuhan sampai dengan tahun 2022 belum diperlukan, namun pada tahun 2024 dibutuhkan guru SD sebanyak 9.803 guru. 

    "Terkait hal tersebut, diperlukan kebijakan lebih lanjut terkait kelebihan dan kekurangan produksi lulusan yang ekstrem pada beberapa program studi LPTK (Lembaga Pendidik Tenaga Kependidikan) tertentu terhadap kebutuhan guru," sebut Ghufron. 

    Baca:  Mahasiswa Pertanian Diwacanakan Jalani Wajib Magang

    Pada Sektor Pangan, terdapat disparitas mutu perguruan tinggi dan program studi pangan-pertanian, begitu juga SDM-nya. Gap pada tahun 2030 atas prediksi linier jumlah mahasiswa pangan-pertanian masih kekurangan 174,2-196,1 ribu (batas bawah-batas atas). 

    Untuk itu, Ghufron menawarkan sejumlah alternatif solusi, di antaranya keberpihakan pembangunan SDM pangan dan pertanian, pemerataan SDM berkualitas di daerah disertai dengan sistem insentif yang menarik.  Kemudian peningkatan mutu, relevansi, dan akses SDM berkualitas, literasi human/sosial, dan kemampuan entrepreueial untuk menguasai gig economy bidang pangan-pertanian tahun 2030.

    Sektor kemaritiman secara garis besar saat ini kebutuhan SDM prodi Ilmu Kelautan baik Sarjana maupun Pascasarjana masih terbuka luas, seiring dengan rencana pemerintah Indonesia dalam memenuhi target luasan konservasi laut sebesar 30 juta hektare. Namun, perlu dibekali dengan kompetensi masa depan, khususnya penguasaan aplikasi bioteknologi dalam restorasi ekosistem pesisir, habitat ikan dan biota yang sudah punah, sehingga upaya rehabilitasi juga tercapai.

    "Kemungkinan kebutuhan lulusan SDM Prodi Manajemen Sumberdaya Perairan dalam konservasi laut juga perlu dikaji, khususnya kurikulum yang berlaku secara nasional," katanya.

    Pada transportasi laut, diperlukan pembentukan pendidikan vokasi baru di bidang kepelabuhanan dan bidang logistik maritim. Tak hanya itu, kata Ghufron, diperlukan juga penguatan pendidikan vokasi kedinasan di sektor pelayaran. 

    Sementara program afirmasi pendidikan untuk penguatan sektor transportasi laut di 8 wilayah propinsi kepulauan juga dibutuhkan guna percepatan pembangunan konektivitas untuk wilayah kepulauan dalam dan antarprovinsi kepulauan tersebut.



    (CEU)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE
    MORE

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id