KPAI Pastikan Demo Pelajar Tidak Dimobilisasi

    Ilham Pratama Putra - 15 Oktober 2020 14:47 WIB
    KPAI Pastikan Demo Pelajar Tidak Dimobilisasi
    ilustrasi demo pelajar. Foto: MI/Susanto
    Jakarta: Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bidang Pendidikan, Retno Listyarti memastikan jika anak-anak maupun pelajar yang ada di dalam aksi demo tidak digerakkan oleh pihak tertentu. Mereka bergerak atas dasar solidaritas dan pembuktian sebagai satu kelompok pertemanan.

    Retno menyampaikan, pernyataan ini disampaikan setelah KPAI mewancarai sekitar 25 anak di lokasi demo sekitar Monas pada Selasa, 13 Oktober 2020. Mereka datang dari tempat yang cukup jauh dari pusat ibu kota Jakarta.

    "Saya bertemu 25 anak, mereka mau pulang ke Bogor. Dan saat itu sudah di atas jam 8 malam. Mereka ternyata hendak ke stasiun karena mau pulang ke Bogor," kata Retno dalam Siaran Kompas TV "Maraknya Pelajar Ikut Demonstrasi, Fenomena Apa?", Kamis, 15 Oktober 2020.

    Retno menceritakan, bahwa kondisi anak-anak yang masih dijenjang sekolah menengah atas itu kelelahan. Para pelajar itu pun dengan polosnya berjalan menuju stasiun terdekat tanpa meminta bantuan siapa-siapa. 

    "Kemudian Saya tanya kalian haus? Saya ada minum di mobil. Dan mereka memang kehausan dan kelihatan banget. Jadi mereka hanya punya uang untuk ongkos. Artinya mereka enggak ada juga yang dibayar. Mereka harus jalan kaki sejauh itu. Dan mereka tak meminta apapun ke Saya," jelas Retno.

    Baca juga:  KPAI Menilai Polisi Ancam 'Nodai' SKCK Pelajar Pedemo Berlebihan

    Dari sanalah Retno melihat jika anak-anak yang ada di lokasi demo memang digerakkan oleh perasaan mereka sendiri. Sabagai anak, sudah tentu ada rasa solidaritas kelompok bermain mereka untuk melakukan kegiatan bersama.

    "Mereka digerakkan oleh perasaan seorang anak yang merasa ini tantangan dan beramai-ramai seolah ini akan tercatat di antara mereka bahwa mereka saling peduli," sambungnya.

    Retno pun memastikan jika mereka tidak hanya kenal dari media sosial. Retno menyebut mereka memang telah kenal lama secara fisik dan psikologis.

    Melihat kejadian itu, yang terpenting menurutnya ialah perlunya komunikasi antara anak, orang tua serta guru. Anak harus diberi pemahaman apa itu demo atau unjuk rasa, apa itu penyampaian aspirasi.

    "Menurut Saya harus ada dialog, jadi ketika ada anak-anak yang ingin (demo), orang tua harus dialog, peran orang tua itu besar, jadi guru dan orang tua itu berkomunikasi dengan anak," terang dia.

    Dialog yang dimaksud bukan hanya mencegah atau melarang tidak perlu demo. Namun, juga harus diberikan alasan yang logis, apabila orang tua menyatakan tidak perlu melakukan demonstrasi.

    "Tanyakan keluar untuk apa, tujuannya apa, kasih tahu risikonya apa. Dialog itu harus dibangun, ngga bisa ngelarang tanpa alasan, enggak bisa digitukan, gunakan cara dialog, bicarakan itu dan kita bisa saling memahami, yang sering tidak dilakukan adalah dialog. Ini budaya penting yang harus kita lakukan," tutup dia.

    (CEU)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id