Rendahnya Daya Baca Picu Buku Tak Laku Dijual

    Antara - 05 September 2019 12:04 WIB
    Rendahnya Daya Baca Picu Buku Tak Laku Dijual
    Ilustrasi perpustakaan. Ilustrasi: Medcom.id/M. Rizal
    Jakarta:  Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan tingkat penjualan buku di Indonesia sangat rendah, bahkan sejumlah judul bisa disebut tidak laku di pasaran.  Anies menduga, hal itu terjadi bukan karena harga jualnya yang terlalu tinggi, melainkan masih rendahnya daya baca masyarakat, meski minat baca sudah mulai tumbuh.

    "Saya agak khawatir bahwa sesungguhnya di Indonesia itu bukan kita tidak punya minat baca, minat bacanya mungkin ada, melainkan daya bacanya yang rendah. Kita harus bedakan antara minat baca dan daya baca,"  kata Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan di Jakarta, dikutip dari Antara Kamis, 5 September 2019.

    Anies mencontohkan buku Capital in the First Century karya Thomas Piketty yang tebalnya mencapai 800 halaman.  Menurut dia, yang jadi tanda tanya apakah ada yang mau membeli walau sudah diterjemahkan, disubsidi pemerintah sehingga dijual dengan harga murah.

    "Asumsikan harganya disubsidi habis-habisan sehingga dari harga Rp800 ribu cuma Rp30 ribu. Saya hampir yakin tetap tidak laku. Bukan persoalan harganya, melainkan persoalan daya
    bacanya. Oleh karena itu, target yang harus kita dorong sesungguhnya bukan hanya meningkatkan minat baca,"  ujarnya.

    Minat baca masyarakat Indonesia, kata Anies, sebenarnya sudah cukup tinggi. Akan tetapi, dalam membaca pesan di aplikasi WhatsApp.  "Alhamdulillah, minat baca kita tinggi, minat baca WA itu cukup tinggi. Bangun pagi buka WA, minat baca tinggi. Akan tetapi, WA pun begitu, agak panjang lewat," katanya.

    Untuk itu mantan Mendikbud ini mengapresiasi karya sejumlah penulis yang menulis novel tebal dan laris di pasaran.  Hal ini, kata Anies, berkontribusi dalam mendorong daya baca.

    Anies mencontohkan buku serial Harry Potter yang tebalnya ratusan halaman dan dibaca
    anak-anak. Hal itu dapat merangsang daya baca sejak kecil.

    "Kemampuan untuk membaca, mencerna materi-materi yang serius, panjang, dan membutuhkan usaha kognitif yang ekstra itu menurut saya harus kita dorong lebih jauh karena trennya sekarang kita membaca twit-twit (Twitter) singkat, kemudian WA singkat, meskipun sesungguhnya materi panjang itu menarik," ucapnya.



    (CEU)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id