• DONASI PALU/DONGGALA :
    Tanggal 21 OKT 2018 - RP 46.708.723.881

  • Salurkan Donasi Anda: (BCA - 309.500.6005) A/n Yayasan Media Group

  • Salurkan Donasi Anda: (Mandiri - 117.0000.99.77.00) A/n Yayasan Media Group

  • Salurkan Donasi Anda: (BRI - 0398.01.0000.53.303) A/n Yayasan Media Group

Hadapi Era Revolusi Industri 4.0

Generasi Milenial Indonesia Lebih Optimistis Ketimbang Singapura

Intan Yunelia - 11 Oktober 2018 21:00 wib
Ribuan pencari kerja mengisi data saat mendatangi pameran
Ribuan pencari kerja mengisi data saat mendatangi pameran Indonesia Career Expo 2018, MI/Ramdani

Jakarta:  Berdasarkan hasil survei perusahaan konsultan manajemen multinasional McKinsey mengungkapkan, bahwa anak muda Indonesia optimistis menghadapi era revolusi industri 4.0.  Sebaliknya, tren pesimistis justru ditunjukkan oleh anak muda Singapura dalam menghadapi era disrupsi teknologi tersebut.

Staf Ahli Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Ananto Kusuma Seta mengatakan, dalam survei tersebut terungkap, 54% anak Indonesia optimistis bahwa revolusi industri 4.0 akan meningkatkan jumlah pekerjaan.  "Survei dilakukan terhadap negara-negara di kawasan Asia," kata Ananto di sela-sela Seminar Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), di Hotel Sultan, Jakarta, Kamis, 11 Oktober 2018. 

Dalam survei tersebut, pertanyaan yang diajukan sederhana.  Yakni apakah 4.0 dapat menurunkan jumlah pekerjaan, dan apakah tidak berpengaruh terhadap jumlah pekerjaan?

Baca: Banyak Negara Gagal Terapkan Literasi Digital

Ananto mengatakan, jawaban anak muda Singapura menunjukkan pesimistis terhadap kehadiran era 4.0.  Hanya 31% yang menjawab 4.0 akan meningkatkan jumlah pekerjaan.

"Mereka pesimistis, karena Singapura banyak industri jasa, di mana sekarang diautomasikan sehingga banyak diganti mesin," ungkap Ananto.

Sementara anak muda Indonesia justru optimistis, bahwa era revolusi industri 4.0 justru akan menciptakan peluang kerja baru.  "Oleh karena itu, anak muda kita ini aset luar biasa," terangnya.

Untuk itu. kata Ananto, dunia pendidikan harus memanfaatkan momentum anak muda sebagai aset luar biasa ini. "Salah satunya dengan mengintegrasikan literasi digital ke dalam broad based education. Intrakurikuler, kokurikuler dan ekstrakurikuler," sebut Ananto.


(CEU)


BACA JUGA
BERITA LAINNYA

Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.