Mas Menteri, Masih Efektifkah Belajar Daring?

    Medcom - 18 November 2020 08:28 WIB
    Mas Menteri, Masih Efektifkah Belajar Daring?
    Siswa SD di Toraja Utara, Sulawesi Selatan, tengah belajar daring. Foto: MI/Usman Iskandar
    Jakarta: Pandemi covid-19 yang telah berjalan selama delapan bulan melahirkan krisis yang bersifat multidimensi. Di antaranya adalah meluasnya kasus kekerasan pada anak. Selain itu, stres pada anak juga mencuat akibat pembelajaran jarak jauh (PJJ). 

    Data Divisi Pengaduan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyebutkan kekerasan pada anak terjadi sebanyak 3.000 kasus selama kurun Maret-Agustus 2020. Pelaku kekerasan adalah orang tua atau pun keluarganya. Jenis kekerasan bersifat fisik dan psikis.

    Yang lebih miris lagi adalah kasus anak bunuh diri karena tak kuat menanggung beban belajar daring. Setidaknya ada tiga kasus bunuh diri anak akibat stres mengikuti sistem belajar online tersebut. 

    Pertama, kasus anak berusia 8 tahun, KS, kelas I SD  di Lebak, Banten. Dia tewas dianiaya orang tua akibat stres mendampingi anak belajar di rumah. Kedua, kasus bunuh diri pelajar SMA berusia 16 tahun, MI, di Gowa, Sulawesi Selatan. Ketiga, kasus bunuh diri siswa MTS kelas IX di Tarakan, Kalimantan Utara. 

    Komisioner KPAI Retno Listyarti angkat bicara. Menurutnya, apabila benar siswa bunuh diri karena beratnya tugas sekolah daring, maka pelaksanaan PJJ tidak sesuai dengan Surat Edaran (SE) Nomor 15 Tahun 2020 tentang Pedoman Penyelenggaraan Belajar Dari Rumah Dalam Masa Darurat Penyebaran Covid-19. Retno minta Kemendikbud mengevaluasi PJJ untuk mengantisipasi korban siswa berjatuhan lagi.

    Survei UNICEF mencatat 66 persen dari 60 juta siswa dari berbagai jenjang Pendidikan mengaku tidak nyaman belajar di rumah. Ketidaknyamanan itu karena kekurangan bimbingan dari guru (28 persen) dan akses internet yang buruk (35 persen). Survei dituangkan dalam laman Sahabat Keluarga Kemendikbud pada 18-29 Mei dan 5-8 Juni 2020 dengan 4.000 tanggapan dari siswa di 34 provinsi. 

    Survei KPAI juga menemukan 79,9 persen responden menyatakan PJJ berlangsung tanpa interaksi guru-siswa. Mereka mengaku guru hanya memberikan dan menagih tugas. Sebanyak 76,6 persen siswa juga tidak menyukai PJJ. Survei disigi pada 13-27 April 2020 terhadap 1.700 responden siswa SD-SMA di 20 provinsi.

    Berikut hasil liputan Media Group News (kolaborasi antara Medcom.id, Metro TV, dan Media Indonesia) atas PJJ yang berlangsung selama pandemi covid-19. Masih efektifkah pembelajaran daring, Mas Menteri Nadiem Makarim?

    1.  Kemendikbud Diminta Sosialisasikan Surat Edaran Soal Belajar dari Rumah
    2.  Berat Beban PJJ Picu Bunuh Diri pada Anak
    3.  Rekomendasi KPAI Buat Pembelajaran Tatap Muka di Tengah Pandemi Covid-19
    4.  KPAI Awasi Rencana Pembukaan Sekolah di Zona Hijau dan Merah Covid-19
    5.  Kebebasan Guru saat Pandemi Covid-19 Disalahartikan
    6.  Pontang-panting Merancang Pembelajaran Daring (Feature)
    7.  Cerita Siswa Berkebutuhan Khusus Berjuang Mengikuti Pembelajaran Daring (Feature)
    8.  Guru Siap Melanjutkan Pembelajaran Daring Setelah Pandemi Berakhir
    9.  Trisula Orang Tua, Sekolah, dan Siswa Kunci Sukses Belajar Daring (Round Up)
    10.  Kreativitas Guru Diuji saat Menggodok Pembelajaran Daring (Wawancara)

    (UWA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id