Peneliti: Asesmen Nasional Sebaiknya Tidak Buru-buru Dilakukan

    Citra Larasati - 18 November 2020 18:44 WIB
    Peneliti: Asesmen Nasional Sebaiknya Tidak Buru-buru Dilakukan
    Ilustrasi. MI/Arya Manggala
    Jakarta:  Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), Nadia Fairuza menilai, sebaiknya pemerintah tidak terburu-buru dalam menggelar Asesmen Nasional. Rencananya, pemerintah akan melaksanakan asesmen pengganti Ujian Nasional (UN) ini mulai Maret 2021.

    Nadia menilai, pemerintah kurang mencermati kondisi di lapangan saat ini.  Sejak pandemi covid-19 masuk ke Indoneasia, banyak sekolah dan siswa masih menerapkan Belajar Dari Rumah (BDR). Kesiapan sekolah dan siswa pun sangat perlu diperhatikan dalam implementasi kebijakan ini, terutama dalam menyangkut protokol kesehatan dan juga infrastruktur komputer.

    Plt. Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang), Kemendikbud, Totok Suprayitno beberapa waktu lalu mengatakan, bawah Asesmen Nasional akan digelar sebelum bulan puasa Ramadhan 2021, yakni sekitar Maret-April 2021.  Asesmen tersebut akan digelar dengan berbasis komputer, serupa dengan UN.

    Bagi sekolah yang tidak memiliki infrastruktur komputer, maka akan diarahkan untuk menggunakan komputer di sekolah lain. "Tentu saja hal ini akan menyulitkan sekolah-sekolah yang berada di daerah rural atau pinggiran dengan keterbatasan fasilitas," kata Nadia, Rabu, 18 November 2020.

    Baca juga:  SKB 4 Menteri Tentang Pembukaan Sekolah Tengah Digodok

    Selain itu, Asesmen Nasional juga harus disosialisasikan secara optimal kepada kepala sekolah, guru, siswa, maupun orang tua. Mengingat waktu yang tidak panjang hingga pelaksanaannya, pemerintah juga perlu memperhatikan variabel pandemi covid-19 yang saat ini masih menghalangi siswa untuk menghadiri pembelajaran tatap muka di sekolah.

    Pemerintah, kata Nadia, juga perlu mempertimbangkan apakah Asesmen Nasional ini benar-benar dapat dilakukan melihat potensi terburuk bahwa pandemi belum akan usai di awal tahun depan. Selain itu, hingga sekarang pun pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) masih menghadapi sejumlah tantangan terutama terkait akses pembelajaran.

    “Diperlukan sosialisasi yang optimal pada tiap stakeholder seperti guru, siswa, kepala sekolah dan orang tua terkait tujuan dari kebijakan ini. Sosialisasi juga tidak kalah penting soal keberadaan dari Asesmen Nasional sebagai instrumen pemetaan, bukan untuk nilai rapor,” ungkap Nadia.

    Nadia pun menambahkan, tujuan sosialisasi lainnya adalah untuk mencegah adanya tekanan pada sekolah-sekolah untuk mendorong para siswanya mendapatkan nilai yang bagus sebagaimana yang terjadi pada UN. Untuk itu, sebaiknya sosialisasi Asesmen Nasional ini perlu dipersiapkan secara matang, serta memperhatikan kondisi luar biasa akibat pandemi covid-19.

    Jika kondisi belum memungkinkan, ada baiknya Asesmen Nasional ditunda untuk sementara waktu. Sementara menunda, pemerintah dapat kembali fokus untuk memaksimalkan implementasi PJJ selama masa pandemi.

    "Pemerintah dapat pula mendorong sekolah-sekolah untuk melaksanakan asesmen mandiri yang kemudian dapat menjadi pertimbangan dalam menavigasikan metode dan konten pembelajaran dengan sesuai pemahaman siswa," usulnya.

    Pemerintah pada saat ini sedang mempersiapkan pelaksanaan AN sebagai pengganti UN pada tahun 2021. Pelaksanaan UN merupakan tolok ukur kompetensi siswa dan menjadi poin penting dalam kelulusan dan penentuan masa depan siswa.

    Sebaliknya, Asesmen Nasional ini merupakan ajang bagi pemerintah untuk mengukur mutu pembelajaran secara holistik yang kemudian akan menjadi referensi bagi kebijakan pendidikan.  Asesmen nasional ini terdiri atas tiga komponen yakni Asesmen Kompetensi Minimum yang terdiri atas tes literasi dan numerasi, Survei Karakter, dan Survei Lingkungan Belajar. 

    Baca juga:  Cerita Siswa Berkebutuhan Khusus Berjuang Mengikuti Pembelajaran Daring

    Di sisi lain, sesuai dengan maksud dan tujuan dari Asesmen Nasional yakni untuk menguji mutu pendidikan. Pemerintah dapat memperoleh gambaran secara holistik terkait dengan kemampuan siswa Indonesia pada saat ini.

    Hasil dari Asesmen Nasional ini akan menjadi modal berharga untuk memetakan kebijakan nasional pendidikan yang harus diambil untuk meningkatkan mutu pendidikan.  Asesmen Nasional ini dapat pula menjadi momentum bagi pemerintah untuk memetakan sejauh mana penurunan kemampuan siswa (learning loss) akibat pandemi Covid-19 ini.

    Penurunan kemampuan siswa adalah dampak yang tidak terhindarkan akibat ketidakhadiran peserta didik di sekolah dalam jangka waktu yang lama. Peserta didik yang berasal dari keluarga miskin dan tidak memiliki lingkungan yang mendukung kegiatan belajar selama rumah memiliki potensi penurunan kemampuan yang lebih besar dibandingkan peserta didik dari latar belakang keluarga menengah ke atas.


    (CEU)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id