Dituding Hapus Jejak Hasyim Asy'ari di Kamus Sejarah, Ini Jawaban Kemendikbud

    Citra Larasati - 20 April 2021 00:35 WIB
    Dituding Hapus Jejak Hasyim Asy'ari di Kamus Sejarah, Ini Jawaban Kemendikbud
    Dirjen Kebudayaan, Hilmar Farid. Foto: Medcom.id/Ilham Pratama



    Jakarta:  Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) memberi tanggapan terhadap desakan untuk menarik Kamus Sejarah Republik Indonesia dari peredaran.  Kamus tersebut sebelumnya disebut memiliki sejumlah kejanggalan, di antaranya menghapus jejak KH. Hasyim Asy'ari dari kamus tersebut.

    Direktur Jenderal Kebudayaan, Hilmar Farid mewakili Kemendikbud merespons tudingan yang menyebut kementerian yang dipimpin Nadiem Makarim ini telah menghilangkan jejak tokoh pendiri Nahdlatul Ulama Syech Hasyim Asy’ari dari Kamus Sejarah RI jilid II. 






    "Kemendikbud selalu berefleksi pada sejarah bangsa dan tokoh-tokoh yang ikut membangun Indonesia, termasuk Hadratus Syech Hasyim Asy’ari dalam mengambil kebijakan di bidang pendidikan dan kebudayaan," tegas Hilmar dalam keterangannya, Senin malam, 19 April 2021.

    Baca juga:  Banyak Kejanggalan, Kemendikbud Harus Tarik Kamus Sejarah RI

    Hilmar yang juga dikenal sebagai sejarawan ini melengkapi pernyataannya dengan fakta. “Museum Islam Indonesia Hasyim Asyari di Jombang didirikan oleh Kemendikbud.  Bahkan, dalam rangka 109 tahun Kebangkitan Nasional, Kemendikbud menerbitkan buku KH. Hasyim Asy’ari: Pengabdian Seorang Kyai Untuk Negeri,” terangnya.

    Meluruskan tudingan yang dimaksud kalangan tersebut, Hilmar menjelaskan, bahwa buku Kamus Sejarah Indonesia Jilid I tidak pernah diterbitkan secara resmi.  Dokumen tidak resmi yang sengaja diedarkan di masyarakat oleh kalangan tertentu merupakan salinan lunak (soft copy) naskah yang masih perlu penyempurnaan.

    "Naskah tersebut tidak pernah kami cetak dan edarkan kepada masyarakat," tandas Hilmar.

    Baca juga:  Kemendikbud Diminta Menyortir Nama-nama Tokoh dari Kamus Sejarah RI

    Lebih penting lagi, lanjut Hilmar, naskah buku tersebut disusun pada tahun 2017, sebelum periode kepemimpinan Nadiem Makarim. "Selama periode kepemimpinan Mendikbud Nadiem Anwar Makarim, kegiatan penyempurnaan belum dilakukan dan belum ada rencana penerbitan naskah tersebut,” jelasnya.

    Keterlibatan publik menjadi faktor penting yang akan selalu dijaga oleh segenap unsur di lingkungan Kemendikbud. "Saya ingin menegaskan sekali lagi bahwa tidak mungkin Kemendikbud mengesampingkan sejarah bangsa ini, apalagi para tokoh dan para penerusnya,” tutup Hilmar.

    (CEU)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id