FRI Sambut Positif Rencana Fleksibilitas Penilaian Guru Besar

    Ilham Pratama Putra - 20 Oktober 2020 11:12 WIB
    FRI Sambut Positif Rencana Fleksibilitas Penilaian Guru Besar
    Ketua Forum Rektor Indonesia, Arif Satria. Foto: Dok. IPB
    Jakarta: Salah satu syarat kenaikan pangkat dosen menjadi guru besar di antaranya ialah memiliki karya yang dipublikasikan di jurnal ilmiah terakreditasi. Namun, di tahun 2021, calon guru besar dapat memanfaatkan fleksibilitas dengan menggunakan karya monumental di luar publikasi ilmiah sebagai salah satu yang diajukan untuk memenuhi persyaratan.

    Fleksibilitas penilaian menjadi guru besar itu mendapat sambutan baik dari Forum Rektor Indonesia (FRI). Ketua FRI, Arif Satria sepakat jika inovasi teknologi, karya tulis, hingga karya seni itu dijadikan sebagai syarat alternatif yang bisa disodorkan saat mengajukan kenaikan pangkat menjadi guru besar.

    "Saya setuju kriteria diubah dan memasukkan apresiasi terhadap karya-karya konkret untuk solusi," kata Arif kepada Medcom.id, Selasa, 20 Oktober 2020.

    Menurutnya, karya-karya fenomenal nonpublikasi ilmiah para dosen yang ingin mengajukan jadi guru besar tak boleh dipandang sebelah mata. Karya fenomenal ini sudah selayaknya disetarakan dengan publikasi ilmiah di jurnal bereputasi.

    "Banyak tokoh yang sukses menghasilkan benih unggul,  menghasilkan banyak paten yang bermanfaat, namun karena kurang publikasi di Scopus jadi gagal menjadi profesor," sambung dia.

    Artinya, karya fenomenal bisa menjadi alternatif. Tinggal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendkibud) bisa mengakui karya tersebut dan memiliki legalitas sebagai inovasi yang memiliki unsur ilmiah dan berdampak nyata di masyarakat.

    "Bagi yang menggunakan karya ilmiah diakui, dan bagi yang menggunakan paten atau varietas juga mestinya diakui. Hanya saja perlu diatur paten seperti apa yang akan diakui," ungkap Arif.

    Baca juga:  2021, Syarat Jadi Guru Besar Lebih Fleksibel

    Rektor Intitut Pertanian Bogor (IPB) ini juga beranggapan, selama ini karya fenomenal banyak tidak diakui dan tidak memiliki paten. Harusnya kriteria varietas dari karya diakui dalam proses menjadi guru besar.

    "Kriteria itu kita sendiri yang menentukan dan kita harus mulai mengapresiasi karya konkret seorang dosen yang memberikan solusi untuk masalah masyarakat, industri dan lingkungan. Karya-karya konkret harus tetap harus mendapat pengakuan objektif yang diakui secara legal, seperti paten dan varietas baru," tegasnya.

    Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) rencananya bakal menerapkan kebijakan fleksibilitas dalam penilaian guru besar di perguruan tinggi mulai 2021. Fleksibilitas dalam penilaian dan persyaratan guru besar ini merupakan bagian dari implementasi program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM).
     
    "Mudah-mudahan di 2021 akan ada kebijakan yang lebih fleksibel. Ke depan penciptaan profesor baru, ujian guru besar lebih fleksibel," kata Direktur Sumber Daya Direktorat Pendidikan Tinggi Kemendikbud, Mohammad Sofwan Effendi saat pengukuhan Dekan Fakultas Hukum Universitas Tarumanagara (Untar), Amad Sudiro sebagai Guru Besar.
     
    Fleksibilitas dalam mengajukan guru besar ini terkait syarat khusus yang selama ini harus dipenuhi calon profesor, yakni syarat publikasi ilmiah yang dapat diganti dengan karya monumental lain. "Manfaatkan fleksibilitas ini untuk menempuh gelar akademik guru besar," kata Sofwan.


    (CEU)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id