Berhasil 'Menikah Massal', Wikan Puji Tiga SMK di Solo

    Citra Larasati - 27 Juli 2020 14:03 WIB
    Berhasil 'Menikah Massal', Wikan Puji Tiga SMK di Solo
    Dirjen Pendidikan Vokasi, Kemendikbud, Wikan Sakarinto. Foto: Zoom
    Jakarta:  Tiga Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Solo, Jawa Tengah mendapat pujian dari Dirjen Pendidikan Vokasi, Kemendikbud, Wikan Sakarinto.  Ketiga SMK ini dinilai mampu mengimplementasikan 'pernikahan massal' antara dunia pendidikan dan industri, sesuai dengan yang selama ini digaungkannya.

    Penilaian tersebut disampaikan Wikan setelah melakukan inspeksi mendadak (sidak) di ketiga SMK di Jawa Tengah, yaitu SMK Negeri 2 Solo, SMK WARGA Solo, dan SMK 1 Muhammadiyah Sukoharjo akhir pekan lalu.  “Meski awalnya terkejut dan bingung, semuanya menyatakan senang sekali bisa kita cek langsung, mulai dari kurikulum, hingga menggali potensi produk-produk hasil karya mereka,” kata Wikan dalam keterangannya, Senin, 27 Juli 2020.

    Menurut Wikan, ketiganya bukan saja mampu menghasilkan lulusan yang berdaya serap tinggi, tetapi juga mampu menghasilkan produk-produk yang melibatkan langsung siswa dalam proyek pengembangan dan produksinya.  Wikan menyebutkan, SMK Warga Solo berhasil membuat mesin Computer Numerical Control (CNC) yang diberi label HKI (Hasil Karya Indonesia).

    Mesin CNC 3 Axis dan 5 Axis ini hasil karya proyek guru SMK bersama industri mitra, melibatkan langsung siswa-siswa SMK berbagai jurusan. Dalam waktu dekat, bekerja sama dengan industri King Manufaktur, SMK Warga akan memproduksi mesin CNC secara lebih massal.

    “Saya berharap SMK dan Perguruan Tinggi serta industri nasional bisa membeli dan memanfaatkan mesin CNC HKI ini, karena sudah resmi di Aplikasi SIPLah, yaitu sistem aplikasi pengadaan sekolah," kata Wikan. 

    Baca juga:  Kemendikbud Rancang Kurikulum Baru untuk SMK

    Apalagi, kata Wikan, mesin CNC HKI ini sistem controller-nya dikembangkan mandiri oleh SMK Warga sendiri. "Karya anak bangsa ini sungguh patut diapresiasi oleh bangsa sendiri dan dunia, ” tutur Wikan. 

    Wikan juga mengapresiasi SMK 1 Muhammadiyah Sukoharjo yang berhasil memproduksi alat-alat kesehatan khususnya bed (tempat tidur) rumah sakit yang memenuhi standar.  SMK 1 Muhammadiyah Sukoharjo mampu memproduksi 20-40 unit tempat tidur per bulan, yang dipesan langsung oleh sejumlah rumah sakit di Sukoharjo dan sekitarnya. 

    Pembuatan alat-alat kesehatan tersebut melibatkan siswa SMK, dalam program Prakerin (praktik kerja industri), mulai dari merancang dan merancang, hingga dengan proses produksi massal serta berbagai post production-nya.

    Praktik pernikahan massal ketiga SMK ini, menurut Wikan, merupakan wujud dari penerapan link and match dengan Industri dan Dunia Kerja (IDUKA).  Tidak hanya itu, ketiganya juga memberi angin segar, bahwa SMK di Indonesia dapat maju dan tidak kalah dibandingkan sekolah vokasi di negara maju lainnya, seperti Jepang.

    Dalam sidak tersebut kemudian Wikan menyimpulkan, bahwa kurikulum menjadi syarat terpenting di dalam pernikahan massal.  Dapat dilihat, kesesuaian antara kurikulum di sekolah dengan kebutuhan industri dan dunia kerja.

    “Dari kurikulum yang Saya lihat dan cermati, ternyata di ketiga SMK tersebut mereka menyusun kurikulumnya benar-benar duduk bersama dengan industri secara intensif. Setiap tahun dilakukan revisi kurikulum sesuai dengan kebutuhan industri dan dunia kerja,” tutur mantan Dekan Sekolah Vokasi UGM ini.

    Oleh Karena itu, ia mengaku tidak terkejut jika keterserapan lulusan di ketiga SMK tersebut mencapai rata-rata 93 persen.  Sidak ke beberapa SMK ini dilakukan Wikan untuk melihat secara langsung apakah kebijakan penikahan massal antara Vokasi dengan IDUKA benar-benar sudah diterapkan oleh SMK atau tidak.

    “Jangan sampai kebijakan yang sudah diputuskan di pusat terkait link and match tidak dilaksanakan dengan tuntas di daerah,” ujar Wikan.

    Wikan berharap kurikulum link and match tidak saja membekali lulusan SMK dengan kompetensi tinggi, tapi juga dapat meningkatkan soft skills siswa. “Jadi, diharapkan anak-anak SMP, dan khususnya orang tuanya, makin yakin memilih masuk SMK. Karena lulusan SMK tidak saja hebat dalam hard skills, tapi juga hebat dalam berkomunikasi dan memiliki karakter serta budaya kerja di industri yang tinggi. Serta bisa meneruskan studi sampai dengan level Sarjana Terapan, atau sampai Magister (S-2) Terapan, di dalam negeri atau di kampus luar negeri,” jelas Wikan.

    Sebagai catatan, setelah mencermati masukan-masukan dari industri dan dunia kerja dalam sinkronisasi kurikulum SMK, Wikan menyatakan bahwa aspek pengembangan soft skills siswa SMK masih harus ditingkatkan dengan sungguh-sungguh. "Contohnya kemampuan berkomunikasi aktif, kepemimpinan dan manajerial," tutupnya.

    (CEU)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id