Masyarakat Indonesia Kecanduan Membajak

    Kautsar Widya Prabowo - 11 September 2019 14:55 WIB
    Masyarakat Indonesia Kecanduan Membajak
    Ilustrasi pameran buku. Foto: MI/Rommy Pujianto.
    Jakarta:  Masyarakat Indonesia disebut mengalami kecanduan untuk melakukan pembajakan.  Tidak hanya membajak karya film dan musik melalui berbagai media, namun juga pembajakan buku.  

    Pernyataan tersebut disampaikan Konsultan World Intelectual Property Organization (WIPO) untuk Indonesia, Candra Darusman dalam diskusi bertema "Pengecualian dan Pembatasan Hak Cipta" di Perpustakaan Nasional, Jakarta Pusat, Rabu, 11 September 2019.  Candra menyebut, kondisi tersebut begitu ironis, mengingat aturan yang melindungi hak cipta, yakni Undang-undang Nomor 6 Tahun 1982 tentang Hak Cipta bukanlah kebijakan baru.

    Namun hal itu tidak juga membuat pembajakan hilang dari bumi Indonesia.  "Yang namanya pembajakan, kalau saya pinjam istilah Bekraf (Badan Ekonomi Kreatif), sebagai kecanduan.  Tidak juga ada kesadaran dari masyarakat Indonesia untuk tidak melakukan pembajakan.  Selama 37 tahun ada UU Hak Cipta, tapi tetap saja kecanduan," kata Candra di sela-sela diskusi.

    Ia menilai, pembajakan tak kunjung hilang di Indonesia, karena penanganannya masih parsial. "Penerbit bergerak sendiri, semua juga bergerak sendiri-sendiri," ungkapnya.

    Padahal pembajakan terus berkembang, mulai dari pembajakan DVD, pengunduhan karya film dan musik, sampai pada buku bajakan.  Candra mengaku kecewa, terutama pada pembajakan terhadap literasi .

    Menurut Candra, maraknya pembajakan literasi akan mengurangi pentingnya peran sivitas akademika.  Terlebih jika melihat tren saat ini, prilaku pembajakan dengan mudah bertransaksi melalui media sosial, seperti WhatsApp (WA).

    "Pembajakan literasi menghancurkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), jika tidak tersedia literasi yang baik, semua informasi dari WA, ini bisa menjadi Negara Kesatuan WA," ujarnya sambil melempar canda. 

    Bangsa Indonesia harus mulai menyadari ketersedian literasi yang berkualitas dapat membuat masyarakat menjadi inovatif dan kreatif. Di negara-negara maju, inovasi dan kreativitas menjadi modal yang dikembangkan menjadi strategi pembangunan di negaranya.

    "Inovasi dan berkreasi untuk menyelesaikan permasalahan bangsa, kesehatan dan segalanya. Kalau tidak, Indonesia bisa menjadi negara middle income trap, negara maju tidak mundur juga enggak," pungkasnya. 



    (CEU)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id