Program Organisasi Penggerak

    Suara di Internal NU Ikut Terbelah Soal POP

    Arga sumantri - 07 Agustus 2020 07:29 WIB
    Suara di Internal NU Ikut Terbelah Soal POP
    Ilustrasi. Foto: MI/Galih Pradipta
    Jakarta: Beda pendapat terkait Program Organisasi Penggerak (POP) rupanya bukan hanya terjadi di internal Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah. Suara di internal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) juga 'terbelah' soal program yang diinisiasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) itu.

    Asumsi ini bisa dibaca dari perbedaan sikap antara Katib Aam PBNU Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) dengan Ketua Lembaga Pendidikan (LP) Ma'arif NU, Arifin Junaidi. Gus Yahya menyatakan NU tetap dalam POP, sedangkan Arifin berkukuh LP Ma'arif NU tak akan bergabung sebelum POP direvisi menyeluruh dan ditunda pelaksanaannya hingga tahun depan. 

    Gus Yahya menemui langsung Mendikbud Nadiem Makarim, Kamis, 6 Agustus 2020. Kedatangannya disebut guna menyampaikan hasil rapat PBNU pada Selasa, 4 Agustus 2020 terkait POP. Gus Yahya juga mengeklaim sudah mendapat restu Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj dan Rais Aam PBNU, Miftachul Akhyar, saat menemui Nadiem.

    "Untuk menyampaikan keputusan bahwa NU tetap ikut serta dalam Program Organisasi Penggerak (POP) yang diinisiasi oleh Kemendikbud," kata Gus Yahya, Kamis, 6 Agustus 2020.

    Baca: Katib Aam: NU Tetap Gabung Program Organisasi Penggerak

    Tapi, pernyataan ini justru ditepis Arifin Junaidi. Arifin menegaskan, sampai saat ini LP Ma'arif NU tetap memutuskan tidak bergabung dalam POP. LP Ma'arif meminta Nadiem merevisi program tersebut secara komprehensif dan menunda pelaksanannya hingga tahun depan. 

    "Sampai saat ini, LP Ma'arif NU tetap pada pendiriannya untuk tidak gabung ke POP sampai ada revisi komprehensif atas konsep POP Kemendikbud," kata Arifin saat dikonfirmasi Medcom.id.

    Serupa Gus Yahya, Arifin mengatakan keputusan ini juga sesuai perintah Ketua Umum Tanfidziyah PBNU Said Aqil Siradj. LP Ma’arif merupakan lembaga di bawah koordinasi langsung Pengurus Tanfidziyah NU.

    Arifin mengaku tidak tahu-menahu soal pernyataan Gus Yahya yang menyebut NU tetap gabung POP. Ia menegaskan lagi, sikap LP Ma'arif sejauh ini masih sama, yakni meminta Kemendikbud mematangkan konsep dan menunda pelaksanaan POP.

    "LP Ma'arif NU PBNU mempertimbangkan untuk bergabung dalam POP tahun depan setelah mempelajari dan mencermati revisi konsep POP," ujar Arifin. 

    Baca: Tepis Katib Aam, LP Ma'arif NU Tegaskan Tak Gabung POP

    Muhammadiyah dan NU jadi dua organisasi besar yang mengumumkan mundur dari POP Kemendikbud. Langkah itu kemudian diikuti Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).

    Sikap ketiga organisasi besar itu memantik polemik POP hingga akhirnya banyak pemangku kepentingan di bidang pendidikan buka suara. Dari banyak suara yang menyeruak, rata-rata meminta program yang dianggarkan senilai Rp595 miliar itu dikaji ulang.

    Baca: Beda Suara di Internal Muhammadiyah Terkait POP

    Mendikbud Nadiem Makarim memastikan POP bakal dievaluasi dengan melibatkan banyak pihak. Nadiem juga meminta maaf atas polemik POP dan berjanji menyempurnakannya.

    POP menjadi salah satu ide Mendikbud Nadiem Makarim di program Merdeka Belajar. Kemendikbud menyeleksi ribuan organisasi masyarakat (ormas) dan lembaga untuk mendukung program pelatihan guru dan tenaga pendidik itu.

    (AGA)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id