Jurnalis Pers Mahasiswa Hilang Kontak Saat Demo Omnibus Law

    Ilham Pratama Putra - 09 Oktober 2020 12:04 WIB
    Jurnalis Pers Mahasiswa Hilang Kontak Saat Demo Omnibus Law
    Suasana demo tolak Omnibus Law di Surabaya. Foto: Medcom.id/Amaluddin
    Jakarta:  Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) Dewan Kota (DK) Surabaya melaporkan tiga orang anggota pers mahasiswa yang hilang kontak saat demo Tolak Omnibus Law di Surabaya. Dua orang di antaranya merupakan pers mahasiswa dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dan satu orang dari pers mahasiswa Politeknik Negeri Malang (Polinema).

    Ketiganya yakni pimpinan redaksi Lembaga Pers Kampus (LPK) Unesa, Muhammad Edwin, redaktur media LPK Unesa Fahmy Risky dan anggota pers Polinema Syafa. Ketiganya meliput aksi demo di sekitaran Gedung Nasional Grahadi Surabaya.

    Saat turun ke lapangan mereka menggunakan atribut lengkap, mulai dari kartu pers hingga pakaian dinas lapangan pers mahasiswa masing-masing. Namun ketiganya tetap mendapat tindakan represif dari oknum kepolisian.

    Hilang kontak dari ketiganya terjadi sekitar pukul 13.30 WIB. Saat itu terjadi bentrok antara massa aksi dengan aparat di Gedung Nasional Grahadi Surabaya.

    "Pagar mulai dilewati, ada pagar yang roboh, tembakan gas air mata mulai dilempar ke massa aksi, ban dibakar dan sebagainya. LPK gerakan mahasiswa sudah hilang kabar," kata Sekjen PPMI DK Surabaya, Rangga Prasetya dalam keterangannya, Jumat, 9 Oktober 2020.

    Baca juga:  Dosen Janjikan Nilai A Bagi Mahasiswa Demo Tolak Omnibus Law

    Hingga pukul 20.00 WIB kabar dari ketiganya tak kunjung muncul. Karena adanya dugaan ketiganya tertangkap, akhirnya pihak PPMI melapor ke Polrestabes Surabaya.

    "Namun, semua wali massa aksi yang ditangkap dan dipanggil datang, diminta untuk pulang kembali dan diberi info agar menjemput atau datang kembali ke Polrestabes Surabaya hari Jumat 9 Oktober 2020 di waktu yang sama saat mereka ditangkap siang atau sore," ujar Rangga.

    Di Jakarta, terjadi pula hal yang sama. Tiga anggota pers Badan Otonom Gerakan Mahasiswa (BO Gema) Politeknik Negeri Jakarta (PNJ), dilaporkan hilang kontak saat meliput demo omnibus law di sekitar Istana Negara.

    Tiga mahasiswa yang hilang ini bernama Ajeng, Dharma, dan Ahsan. Hingga saat ini belum ada kabar dari ketiganya.

    "Ajeng, Dharma, dan Ahsan disebut masih bisa berkomunikasi di grup internal hingga siang hari, pukul 11.00. Ajeng masih terpantau update status pukul 15.00, tapi setelahnya benar-benar tidak bisa dihubungi," kata Redaktur Pelaksana BO Gema, Indah Sholihati dalam keterangannya, Kamis 8 Oktober 2020.

    (CEU)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id