Sekolah Diminta Pahami Kegiatan Luar Ruang di Kurikulum 2013

    Ilham Pratama Putra - 24 Februari 2020 16:14 WIB
    Sekolah Diminta Pahami Kegiatan Luar Ruang di Kurikulum 2013
    Sekretaris Jenderal (Sekjen) Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Heru Purnomo. Foto: Medcom.id
    Jakarta:  Insiden susur sungai SMPN 1 Turi, Sleman melukai proses kegiatan belajar mengajar di institusi pendidikan. Ke depan sekolah harus lebih mendalami penyelenggaraan kegiatan belajar di luar ruang yang banyak direkomendasikan di dalam Kurikulum 2013 (K13).

    Sekretaris Jenderal (Sekjen) Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Heru Purnomo mengatakan, dalam Kurikulum 2013 secara jelas mengatur dan mendorong siswa untuk mengikuti kegiatan pembelajaran di luar kelas.  Heru menegaskan, meski hal tersebut dianjurkan di K13, namun dalam pelaksanaannya, kegiatan luar ruang harus mampu menjamin rasa aman bagi siswa.

    "Sekolah aman tentunya sekolah yang memberikan perlindungan terhadap peserta didiknya dari berbagi risiko, baik di dalam kelas saat pembelajaran, maupun di luar kelas serta saat kegiatan di luar sekolah," kata Heru kepada Medcom.id, Senin, 24 Februari 2020.

    Baca juga:  FSGI: Kegiatan di Luar Sekolah Harus Diketahui Kepsek

    Menurutnya, kegiatan di dalam sekolah maupun di luar sekolah sejatinya sama-sama memiliki risiko keamanan.  Sekolah sudah harus memperhitungkan langkah POS (Prosedur Operasional Standar) keselamatan peserta didik dalam konstruksi sekolah aman.

    "Tentunya POS keselamatan peserta didik dilakukan. baik pembelajaran di dalam kelas, di halaman sekolah, maupun belajar di luar sekolah yang menjadi tuntutan Kurikulum 2013," terang Heru.

    Untuk pembelajaran di luar kelas, guru bidang studi yang akan melaksanakan pembelajaran harus mendapatkan izin dari penanggungjawab satuan pendidikan, dalam hal ini kepala sekolah. Pihak sekolah juga harus mengoordinasikan dengan lembaga atau tempat pembelajaran luar ruang yang ingin dituju.

    "Lalu pantau dan kaji terlebih dulu kondisi yang menjadi tujuan, untuk memperoleh informasi keamanannya. Ada langkah antisipasi, plan A hingga Z," jelas Heru.

    Selanjutnya, diperlukan pemberitahuan pihak sekolah kepada orang tua siswa. Agar orang tua siswa mengetahui kegiatan para siswa di luar ruang. 

    "Jika perlu orang tuanya ikut mendampingi, sehingga menambah rasa aman bagi kegiatan tersebut," tambah dia.

    Baca juga:  Nadiem Instruksikan Investigasi Kasus Susur Sungai SMPN I Turi

    Pihaknya juga merasa perlunya mengecek keamanan kendaraan yang akan dipergunakan dalam mobilitas pembelajaran di luar ruang kelas tadi. 

    Sebelumnya, polisi telah menetapkan satu tersangka berinisial IYA terkait insiden susur sungai, yang mengakibatkan 10 siswa tewas.  Tersangka merupakan salah satu pembina Pramuka sekaligus guru olahraga di SMPN 1 Turi, Sleman. 

    IYA diduga melanggar Pasal 359 KUHP karena kelalaiannya yang menyebabkan orang lain meninggal dunia dan Pasal 360 karena kelalaiannya yang menyebabkan orang luka-luka dengan ancaman hukuman lima tahun penjara.

    Kabid Humas Polda DIY Kombes Pol Yuliyanto mengatakan, jumlah tersangka tidak menutup kemungkinan bertambah. Pemeriksaan saksi masih dilakukan hingga kini.




    (CEU)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id