Guru Besar UIN Urai Lingkar Ujaran Kebencian di Medsos

    Intan Yunelia - 10 Desember 2019 15:56 WIB
    Guru Besar UIN Urai Lingkar Ujaran Kebencian di Medsos
    Ilustrasi. Foto: AFP
    Jakarta:  Universitas Islam Negeri (UIN), Sunan Kalijaga Yogyakarta mengukuhkan Iswandi Syahputra sebagai guru besar bidang Ilmu Komunikasi.  Dalam pidato pengukuhannya, Iswandi menyampaikan tentang spiral kebencian di media sosial (medsos).

    Iswandi Syahputra menjelaskan, bagaimana ujaran kebencian dapat tersebar dengan mudah di media sosial. Hal itu disebabkan karena perpaduan antara kecenderungan politik, keyakinan keagamaan dan ketergantungan pada informasi yang diperbincangkan secara tertutup dan menghasilkan peningkatan emosi dan kemarahan.

    "Sehingga kemarahan, kecemasan, kesedihan, dan kebencian menjadi lebih cepat berkembang di media sosial," kata Iswandi dalam Pidato Pengukuhan Guru Besar bidang Ilmu Komunikasi UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, seperti dikutip dari siaran pers yang diterima Medcom.id, Selasa, 10 Desember 2019.

    Dalam pidatonya, Iswandi menjelaskan ada empat lingkar spiral kebencian yang mudah menyebar di media sosial.  Ujaran kebencian di media sosial tersebut menyebar dan melebar dari kebencian implosif yang terpendam hingga kebencian eksplosif yang tersampaikan.

    "Pada lingkar spiral pertama, kebencian masih bersifat personal, tersimpan dan terpendam. Kebencian pada lingkar ini muncul karena adanya penerimaan, penyerapan atau internalisasi berbagai informasi yang tersebar pada berbagai jenis media sosial," ujarnya.

    Selanjutnya pada lingkar spiral kedua, kebencian muncul sebagai akibat saling berbagi informasi hang menimbulkan kebencian bersama tentang suatu informasi tertentu pada satu kelompok yang memiliki karakteristik spesifik yang sama.

    "Pada tahap ini, informasi yang beredar dianggap mengandung kebenaran sehingga dapat mengukuhkan pandangan anggota kelompok yang sejenis," imbuhnya.

    Untuk lingkar spiral ketiga, yaitu kebencian di mesia sosial yang terjadi pada lintas kelompok warganet. Lingkar spiral ini, informasi bukan lagi sekadar informasi, tetapi menjadi agenda atau isu publik.

    Sedangkan lingkar spiral keempat, yaitu kebencian meledak sebagai ujaran kebencian yang tersampaikan di media sosial. Karena mendapat dukungan dari kelompok komunal.

    "Proses pada level ini terjadi secara hiper-interaktif.  Saling serang dengan berbagai ujaran kebencian menjadi masif dan terbuka. Proses tersebut tidak dapat dikendalikan karena kebebasan berpendapat dalam iklim demokrasi yang dianut," tuturnya.

    Sementara itu, untuk menangkal kebencian di media sosial, Iswandi meminta perhatian pada akademisi, pemerintah dan warganet. "Seorang akademisi perlu memperkuat budaya riset berbasis big data, budaya membaca, budaya berpikir, budaya kritis dan budaya berani berpendapat. Sebab, hoaks dan kebencian di media sosial hanya dapat dihentikan dengan budaya riset, budaya membaca, budaya berpikir, budaya kritis, dan budaya berpendapat," tandasnya.

    Dalam pidatonya yang berjudul 'Hoaks dan Spiral Kebencian di Media Sosial' tersebut Iswandi meminta perhatian pemerintah untuk tetap menjamin kebebasan berpendapat dan kebebasan berbicara warganet di media sosial.

    "Kebebasan saat ini harus benar-benar dijamin pemerintah sebagai freedom for, bukan freedom from. Pemerintah dan negara harus cermat dalam membedakan antara hoaks dengan kritik dan satir, dapat memilah antara kebencian dan kekecewaan, dapat merasakan perbedaan antara berpendapat dan menghujat," ujarnya.

    Sementara pada warganet, Iswandi meminta perhatian agar lebih cermat dalam aktivitas di media sosial. Kebebasan berbicara bukan berarti bebas membenci. Freedom of speech bukan berarti freedom to hate. "Gunakan jempol untuk konten jempolan," tutupnya.




    (CEU)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id