Minat Belajar Siswa Menurun di PJJ Fase Kedua

    Ilham Pratama Putra - 17 November 2020 14:09 WIB
    Minat Belajar Siswa Menurun di PJJ Fase Kedua
    Ilustrasi. Medcom.id
    Jakarta:  Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) menilai tingkat minat belajar siswa menurun memasuki semester ganji atau Pembelajaran Jarak Jauh (OJJ) fase kedua. Dari pemantauan FSGI di sejumlah daerah menunjukkan fakta, adanya kejenuhan dalam menjalani PJJ.

    "Baik bagi pendidik maupun peserta didik. Meskipun ada bantuan kuota internet dari Kemendikbud, namun jumlah siswa yang mengikuti pembelajaran daring melalui aplikasi Zoom ataupun Google Meet dari hari ke hari semakin menurun," ujar Presedium FSGI, Fahmi Hatib dalam keterangannya kepada Medcom.id, Selasa, 17 November 2020.

    Di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) misalnya, pada fase pertama saat belum ada bantuan kuota, keikutsertaan siswa mencapai 60 persen. Namun keikutsertaannya terus menurun menjadi 20 persen di fase ke dua.

    Menurunnya, semangat belajar anak juga dikeluhkan oleh beberapa guru SMP di Jakarta Timur dan Bekasi. Kelas tidak selalu penuh saat PJJ digelar.

    “Kalau Saya memulai pembelajaran jam 08.00 WIB pagi dengan menggunakan aplikasi Google Meet atau Zoom Meeting, siswa yang ikut hanya sekitar 20 orang dari 32 siswa. Ketika saya telepon, yang angkat orang tuanya, dan orang tuanya hanya mengatakan bahwa anaknya masih tidur,” ungkap seorang guru ASN di Jakarta kepada pengurus FSGI.

    Baca juga:  Politik Anggaran Harus Diarahkan untuk Persiapan Belajar Tatap Muka

    Seorang guru di Cibitung, kabupaten Bekasi, Jawa Barat juga mengungkapkan keluhan serupa. Guru tersebut menyatakan tidak ada dorongan orang tua dalam mendukung anak saat PJJ.

    "Bahwa peran orang tua sangat besar untuk membangkitkan semangat belajar anak-anaknya, namun ternyata semangat orang tuanya sendiri juga sudah mulai menurun," ujar guru di Cibitung itu.

    Lebih lanjut, menurut Fahmi, di saat orang tua dan anak tidak memiliki semangat untuk PJJ, maka Pembelajaran Tatap Muka (PTM) menjadi sebuah keniscayaan. PTM harus menjadi alternatif mengatasi kejenuhan dan masalah psikologis peserta didik, termasuk para pendidik.

    “Oleh karena itu, FSGI mendorong pembelajaran campuran dilaksanakan pada semester genap tahun ajaran 2020/2021 dengan catatan sekolah siap, guru dan para siswa juga siap memasuki adaptasi kebiasaan baru (AKB) di satuan pendidikan dengan mematuhi protokol kesehatan atau AKB,” ujar Wakil Sekjen FSGI, Mansur. 

    (CEU)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id